Isu ketegangan rasial di Amerika kembali merebak belakangan ini. Terlebih, setelah terpilihnya Donald Trump sebagai presiden ke-45 Amerika Serikat. Proses panjang kampanye sampai pasca terpilihnya presiden terbukti mampu memecah belah silahturahmi. Dari teman jadi lawan, hanya karena berbeda pandangan.

Hal ini sangat dirasakan oleh The Coffee Tavern, Montana, Amerika Serikat, ketika salah satu pemiliknya mengeluarkan pendapat yang dinilai rasis, seksis, homofobia dan misoginis. Saat Trump akhirnya terpilih menjadi Presiden,  Larry Heafner sang pemilik kafe membuat status di akun media sosialnya yang mengejek warga ‘kulit hitam’ keturunan Afrika-Amerika sebagai ‘monyet’. Ia juga menyerukan pelecehan seksual terhadap kandidat presiden dari partai demokrat Hilary Clinton. Lebih-lebih lagi, ia mengatai laki-laki yang memiliki pandangan liberal sebagai ‘homoseksual’.

Status yang diunggahnya di akun Facebook Heafner ini menuai banyak sekali kritik. Ketika akhirnya Heafner menghapus statusnya dan meminta maaf atas kesalahannya, semua sudah terlambat. Sudah banyak orang yang mengambil foto layar statusnya dan menyebarkannya di media sosial. Kemarahan orang-orang di sekitarnya tak terelakkan lagi

Ketika diwawancara oleh KTVQ, Heafner mengemukakan permintaan maafnya dan mengaku sangat sedih karena orang-orang kini memandang dirinya sebagai orang yang sangat rasis. Dia menegaskan bahwa dirinya bukan orang yang rasis. Buktinya, Heafner menjelaskan,  ia memperkerjakan anak ‘kulit hitam’ di The Coffee Tavern.

Pada akhirnya, apa yang ia lakukan merugikan dirinya sendiri. Seharusnya kedai kopi The Coffee Tavern miliknya akan melakukan peluncuran di Billings, Negara bagian Montana. Namun, akibat pendapatnya yang dinilai penuh kebencian, banyak orang yang melakukan boikot terhadap kafenya tersebut. Ia pun harus menunda tanggal peluncuran kafenya sampai waktu yang belum ditentukan.

Isu rasial sempat diangkat pula oleh jaringan waralaba kedai kopi internasional Starbucks pada tahun 2013 ketika manajemen Starbucks melakukan kampanye dengan tagar #racetogether. Para barista diminta membuka percakapan tentang isu ras kepada para pengunjung gerainya. Dengan harapan, masyarakat semakin terbuka pikirannya dan semakin sadar akan kuatnya  isu rasial di Amerika. Masih, bahkan setelah puluhan tahun lalu Martin Luther King Jr. memperjuangkan hak masyarakat sipil kulit hitam dengan pidatonya yang sangat populer ‘I Have A Dream’ di tahun 1963.

Mengutip isi salah satu pidato Martin Luther King, Jr., kegelapan tidak dapat menyelesaikan kegelapan, hanya cahaya yang bisa. Kebencian tidak dapat menyelesaikan kebencian, hanya cinta yang bisa. Dikenal sebagai Hari Hak Sipil, Hari Martin Luther King Jr. jatuh tepat pada hari ini, 16 Januari. Sambil berbincang santai bersama teman di kedai kopi kesayangan, kita dapat merenungkan bahwa ‘berbeda’ itu tidaklah salah.  Senada dengan semangat yang disuarakan ‘gerakan sepatu belang’ jelang Demonstrasi 411 November lalu, ‘berbeda’ hanya soal menambah warna yang membuat hidup terlihat lebih meriah. Yakinlah, hanya cinta yang mampu mengalahkan kebencian.

 “Darkness cannot drive out darkness; only light can do that.
Hate cannot drive out hate; only love can do that.”

Martin Luther King Jr.,
dalam pidato ‘Loving Your Enemies’, 1957

(Tulisan oleh Lani Eleonora;
suntingan oleh Klara Virencia.

Informasi disadur dari thehuffingtonpost.com, thenewyorker.com, dailycoffeenews.com, ktvq.com;
foto-foto dari ktvq.com, lawofficer.com, artspace.com, campusreset.com, & )

Lani Eleonora

About Lani Eleonora

Lani Eleonora adalah seorang penikmat kopi yang senang berkelana, menapaki gunung, dan menyelami lautan. Musik adalah cinta pertamanya yang menuntun ia untuk menulis.

Leave a Reply