Kedai kopi Rubiaceae yang dimilikinya berisikan jajaran barista perempuan. Fanny Winardi mengaku, awalnya ia tidak sengaja.

I thought we would need men buat ngakut galon,” Fanny mengakui. “For muscles, you know.

Fanny & all female squad_1 copy

Saat mewawancarai calon-calon baristanya, secara kebetulan mereka-mereka yang Fanny rasa ‘klik’ semuanya perempuan. Fanny kemudian memulai Rubiaceae dengan all-female team. Tak ia sangka pula, pekerjaan-pekerjaan ‘berotot’ seperti menutup pintu ruko, mengangkat galon, semuanya mereka mampu lakukan sendiri.

“Ternyata kita baik-baik saja. Jadi, ya, sekarang jatuhnya jadi semacam konsep,” simpul Fanny. Bukan berarti mereka menutup pintu untuk barista laki-laki. “Kami nggak membatasi kalau ada yang laki-laki yang pengin ikut tim rubiaceae. Go ahead. Silakan kirim CVny.”

Untuk Fanny, kedai kopi lebih dari sekadar soal mengumbar konsep. Secangkir kopi yang bisa menyihir barista dan pelanggannya, itu yang utama.

DSC_0012

Fanny bertaruh merekrut barista-barista yang tidak memiliki pengalaman bikin kopi sama sekali. Mengantungi pengalaman satu tahun meramu kopi di Sydney, Fanny mencari mereka-mereka yang tertarik dengan kopi dan punya mental pekerja. Pertaruhannya berbuah manis.

“Ada nih satu, our big baby,” Fanny memulai, menceritakan barista termudanya yang berusia 18 tahun.

“Latar belakangnya dari keluarga berada, tapi dia mau cuci piring, buang sampah, angkat sampah,” ujarnya kagum.

“Dia jadi suka kopi. Dia jadi beneran pengin bisa latte art, pengin bisa filter, bisa ikut lomba,” Fanny lanjut bercerita. “Hearing that from her, it makes me happy.”

Fanny & all female squad_2 copy

Setelah sukses ‘membaptis’ baristanya menjadi pecinta kopi, Fanny melakukan sihir yang sama terhadap sepasang suami istri yang sama sekali tidak minum kopi.

“Anak mereka kayaknya mau buka juga [kedai kopi]. Jadi mereka ngobrol-ngobrol sama aku,” kenang Fanny. Ia mendengar dari mulut sang istri sendiri, bahwa “tante nggak suka kopi.”

Namun di akhir perbincangan, mereka terbujuk untuk memesan secangkir kopi. Terbukalah mata sang istri, bahwa kopi tidak selalu pahit dan berujung sakit maag.

“Dari situ, sudah deh. Dia langsung jadi reguler. Setiap minggu dia datang sama keluarganya dari gereja,” kisah Fanny.

Urusan secangkir kopi memang gawat kalau sudah melekat.  Namun tempat ini punya pikatnya sendiri. Perpaduan dinding-dinding beraksen industrial dengan sentuhan feminin berupa karangan bunga memberikan nuansa manis yang bersahaja.

DSC_0013

DSC_0046

Dengan siraman cahaya matahari yang berlimpah, suasana hangat Rubiaceae menggugah para pesinggah untuk jatuh cinta dengan yang ada di depan mata.

DSC_0006

Rubiaceae Artisan Coffee
Jl. Radio Dalam Raya no. 11C
Jakarta Selatan, 12140

Hari buka: Senin, Rabu – Minggu
Jam buka: Pukul 08.00 – 21.00

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply