Terhitung 43 kali teriakan “Black Lives Matter” bergaung sepanjang hari Minggu itu di sebuah gerai Starbucks di Chicago, Amerika Serikat. “Setelah pesanan ketiga atas nama ‘Black Lives Matter‘, aku otomatis menghitung sepanjang shift-ku,” ujar seorang barista di gerai tersebut, yang meminta dirahasiakan namanya.

Sesuai dengan tradisi Starbucks, barista akan menuliskan nama pelanggan di gelas kopi mereka dan meneriakkannya ketika pesanan mereka sudah siap tersaji. Dua minggu terakhir, berpuluh-puluh orang melakukan gerakan serupa di seluruh penjuru Starbucks Amerika Serikat, mengungkap nama mereka sebagai “Black Lives Matter” saat memesan kopi.

#64_Barista curhat

Gerakkan ini menjadi viral di internet. Seusai mengunggah foto gelas Starbucks bertuliskan ‘Black Lives Matter’ miliknya di Facebook, pelanggan Starbucks Lex Cross mendapati 47.000 orang menyebarkan postingnya tersebut dan sejumlah pengguna Facebook lainnya terinspirasi untuk melakukan hal yang sama.

Sejak tahun 2013, ‘Black Lives Matter‘ (‘Nyawa Kulit Hitam Berharga’–red) menggaung menjadi jargon gerakan yang merespon perlakuan semena-mena terhadap kaum kulit hitam keturunan Afro-Amerika di AS. Salah satu peristiwa yang menjadi sorotan adalah video penembakan Samuel DuBose oleh polisi di lampu merah, hanya karena mobil Samuel tidak punya plat nomor depan. Samuel DuBose meninggal dalam peristiwa itu.

Tren yang merebak di gerai kopi Starbucks itu bersambut senyuman hangat oleh mereka yang hadir untuk menenggak kopi di Starbucks.

“Melihat ekspresi orang-orang, aku dapat melihat beberapa orang tersentuh dengan aksi ini. Beberapa bahkan tersenyum dan terlihat hangat,” ujar salah seorang barista Starbucks lainnya. Namun tidak semuanya menerima dengan tangan terbuka. Beberapa pelanggan malah terganggu.

“Mudah untuk melihat bahwa pelanggan-pelanggan lainnya memutar matanya. Aku melihat beberapa orang memutar matanya,” lanjut barista tersebut. Ia melanjutkan, tidak semua rekan baristanya mendukung gerakan tersebut. Beberapa malah kesal ketika mendapat pesanan ‘Black Lives Matter’.

#64_black lives matter

Sumber: dennismichaellynch.com

“Mereka tidak melawan pelanggan yang memesan ‘Black Lives Matter‘, namun aku dapat melihat beberapa dari mereka terlihat sangat tidak nyaman harus meneriakkan [itu]. Di satu sisi mereka tidak kontra dengan gerakan ini, tapi di sisi lain mereka tidak ingin ambil bagian.”

Seorang barista yang merasa terganggu tidak segan meninggalkan jejak komentar di postingan foto Lex Cross di Facebook.

“Membuat barista terlihat sangat bodoh dengan meneriakkan ‘Black Lives Matter’ di ruangan yang ramai tidak membantu idealismemu. Kau membuat kami merasa sangat malu menjalankan tugas kami,” tulisnya.

Penolakan secara gamblang dialami Uzamere, pelanggan gerai Starbucks di New York City dan seorang jurnalis. Saat Uzamere memesan atas nama ‘Black Lives Matter‘, barista yang melayaninya memintanya untuk keluar dari antrian.

“Starbucks tidak ikut campur dalam urusan politik ras,” tegas barista tersebut kepada Uzamere. Dalam tulisan di blognya, Uzamere mengisahkan bagaimana barista-barista di gerai tersebut seketika terlihat tidak nyaman. Salah satu dari mereka menelpon manajer mereka untuk memastikan apakah mereka perlu melayani pelanggan yang memesan atas nama ‘Black Lives Matter’.

Ironis, mengingat Starbucks pernah membuat gerakkan serupa bertemakan politik ras. Maret 2015 lalu, Starbucks meminta para baristanya untuk menuliskan ‘Race Together’ (‘Diskusi Ras Bersama-sama’, atau harfiahnya ‘Berlomba Bersama’–red) pada cangkir-cangkir pesanan pelanggan mereka. Starbucks berharap pesan singkat ini memicu para pelanggan mereka untuk mendiskusikan isu ketidakseimbangan hak-hak politik antar ras di gerai mereka. Kampanye ini tidak bersambut baik dan berakhir ‘garing’.

Di tengah kisruh antar baristanya, CEO Starbucks Howard Schultz menyatakan bahwa dirinya mendukung penuh gerakan kemanusiaan yang dimulai atas inisiatif para pelanggannya ini.

“Sejujurnya, ada banyak orang yang berkata padaku, ‘Howard, ini bukan persoalan yang perlu kita sentuh. Isu ini bukan untukmu, bukan untuk diangkat perusahaan. Biar orang lain yang melakukan ini‘,” ujar Howard dalam wawancara dengan Huffington Post. “Aku membantah pendapat semacam ini, sepenuhnya. Kita tidak bisa menunggu orang lain melakukan ini.”

#64_howard schultz

Disadur dari mic.com, aol.com, halsteadgazette.co.uk,
dennismichaellynch.com, truthfeed.com, & good.is

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply