Sengatan terik matahari dan kemacetan Jakarta akan membuat tenggorokan terasa kering. Minuman dinginpun membayang di ujung lidah. Segarkan tenggorokan kamu dengan paduan kopi, susu, dan cokelat dari Sukotjo yang  ditebus dengan harga Rp 18.000 saja.

Meramaikan kancah es kopi susu yang sedang merebak di ibukota, Sukotjo hadir dengan keunikan karakter rasa dan cara pembelian. Jika kedai kopi lain berbondong-bondong menciptakan variasi rasa dari kombinasi kopi, susu, dan gula aren, kedai kopi di kawasan Cipete ini menawarkan rasa baru dari paduan kopi, susu segar, cokelat, dan racikan gula aren dicampur gula putih. Menghasilkan minuman segar dengan rasa cokelat yang manis dan sentuhan pahit kopi yang pas di akhir tegukan. Kesan seruputan pertama yang sulit untuk dilupakan.

Sukotjo resmi dibuka tepat pada hari kemerdekaan bangsa Indonesia di tahun 2017 ini. Menempati bangunan bekas kantor di Jalan Gaharu I Blok A No. 94, Cipete Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan. Lokasi Sukotjo berdampingandengan Kupi Gampong yang menyediakan makanan dan minuman khas Aceh.Ruangan yang awalnya gudang penyimpanan disulap menjadi gerai penjualan Sukotjo yang dikelilingi kaca dan sebuah jendela kecil.

#BeliLewatJendela menjadi metode penjualan khas Sukotjo. Ide ini muncul karena keterbatasan tempat. Ruangan Sukotjo begitu mungil dengan bentuk memanjang berisi mesin kasir, mesin espresso, mesin pengemas minuman, grinder, chiller,dan tempat pencucian piring.

Kamu tidak akan menemukan bar yang biasanya menjadi area pemesanan dan berbincang-bincang dengan barista di Sukotjo. Bar hanya ada di sisi tempat milik Kupi Gampong.

Tidak perlu khawatir jika ingin minum langsung di tempat. Kupi Gampong dan Sukotjo berbagi ruangan untuk para pengunjung yang datang. Terdapat ruangan berpendingin dan area luar yang jika ditotal memiliki kapasitas sekitar 20 orang.

Sukotjo sempat ingin dinamakan “Blank” karena ketiga co-founder Sukotjo belum menemukan nama yang tepat. Zozy Alfazos, co-founder Sukotjo, mengatakan bahwa  kalau ada yang bertanya “Kenapa namanya Blank?”, maka akan dijawab dengan pertanyaan lagi“Apa ada ide nama yang lebih bagus?”. Rencananya, pencarian nama ini dijadikan sayembara bagi para pengunjung yang datang. Akan tetapi, sebelum sempat dinamakan Blank, tercetuslah nama Sukotjo. Sukotjo merupakan singkatan dari Susu-Kopi-Tjoklat yang tercetus dari obrolan teman-teman saat para co-founder bingung memikirkan nama untuk kedai kopi mereka. Penemu nama ini kemudian diberikan hadiah berupa minum gratis di Sukotjo selama satu tahun.

Sukotjo menyediakan tiga varian minuman andalan. Terdiri dari Es Kopi Susu, Es Coklat dan Es Sukotjo dengan range harga Rp 17.000 – Rp 18.000. Setiap menu minuman memiliki cita rasa khas yang sungguh memanjakan lidah. Kopi untuk Es Sukotjo merupakan kombinasi robusta dan arabika yang dipesan dengan profil sangraikhusus ke juru sangrai langganan dengan biji kopi berkualitas dari berbagai daerah di Indonesia. Untuk Es Kopi Susu, karakter kopi terasa lebih kuat namun tidak mengganggu dengan manis susu yang menyegarkan.

Kombinasi kopi, susu, dan cokelat biasanya menciptakan rasa moka sementara Sukotjo menasbihkan diri bahwa kombinasi yang mereka ciptakan berbeda dengan rasa moka. Rasa minuman yang tercipta memiliki karakter kopi yang ringandan pastinya bersahabat bagi para peminum non-coffee.

Kesegaran menu yang disajikan Sukotjo mendapat respon positif dari masyarakat. Selain pembeli yang datang langsung, pesanan dari layanan ojek daring terbilang cukup tinggi. Padahal, pengelola Sukotjo dengan jujur mengatakan tidak merancang strategi marketing apapun. Saat ditanya apa strateginya:

Bangun pagi biar rejeki tidak diambil orang, berdoa supaya hari ini laris dan bikin kopi pakai hati, jawab Zozy sambil tersenyum lebar.

Ketiga co-founder Sukotjo, yaitu Zozy, Andre Ariesta, dan Abdurahman Rifki, mengakui bahwa meskipun termasuk generasi millenial, mereka tidak terlalu akrab dengan perkembangan media sosial. Hal ini dapat dilihat dari feed Instagram Sukotjo yang tidak cukup aktif. Saat ini, mereka masih mempelajari perkembangan dan penggunaan media sosial untuk meningkatkan exposure dan awareness masyarakat terhadap produk mereka.

Awal perkenalan Zozy dengan kopi, bermula di tahun 2010 saat kantor event organizer tempatnya bekerja membuka cabang usaha berupa rumah sangraidan kedai kopi. Pemilik modal kemudian menggandeng Zozy untuk mengembangkan usaha kopinya melalui perhelatan-perhelatanyang akan diselenggarakan. Mulai dari situlah, Zozy mempelajari kopi lebih dalam.

Keinginan untuk membuka gerai kopi muncul di tahun 2013. Mesin espresso dibeli dan diletakkan di kantor sehingga siapa saja bisa menyeduh kopi sesuka hati. Banyak teman-teman yang menyarankan untuk membuka kedai kopi daripada terbatas digunakan di kantor.

Atas dorongan itu, Zozy, Andre, dan Rifki mulai membuat gambaran kedai kopi impian mereka. Kesibukan masing-masing membuat rencana ini baru terwujud di Agustus 2017 dengan nama Sukotjo saat es kopi susu sedang boomingatas kemunculan Es Kopi Susu Tetangga dari Toko Kopi Tuku yang fenomenal.

Di masa mendatang, Sukotjo berencana mengembangkan varian minuman sehingga memberi banyak pilihan bagi pengunjung. Harapan yang terbesar adalah bagaimana untuk bisa terus konsisten meracik kopi yang dapat dinikmati banyak orang.

(Tulisan, liputan, dan foto-foto oleh Andika Diantara,

Suntingan oleh Lani Eleonora,

Suntingan foto oleh Andreansyah Dimas)

Related Post

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply