Pelataran Candi Prambanan, Yogyakarta, akhir pekan lalu dipenuhi dengan sergapan aroma kopi dari berbagai penjuru. Pesta Kopi Mandiri 2017 yang diadakan pada tanggal 22-23 April 2017 lalu lah penyebabnya. Dipenuhi dengan para pecinta kopi dari berbagai daerah, pesta kopi ini disemarakkan dengan kehadiran seduhan kopi para barista dari beragam kedai dan kompetisi seduh kopi Indonesia AeroPress Championship (IAC) 2017.


Kompetisi Dengan Semangat Kebebasan

AeroPress, sebagai salah satu alat seduh manual yang kerap menghiasi meja seduh barista mengilhami satu kompetisi tersendiri terlepas dari kompetisi kopi lainnya. Berbeda dengan kompetisi kopi lain, AeroPress Championship yang sudah diadakan sembilan kali di tingkat internasional ini mengusung semangat kebebasan.

Barista kompetisi ini bebas dari aturan yang terlalu ketat. Bebas dari nuansa serius, pun bebas berekspresi ketika menyeduh. ABCD School of Coffee, sebagai pihak yang memegang lisensi Indonesia AeroPress Championship dari tahun 2016,  pun ingin membawa semangat ini dalam kompetisi nasional.

“Jadi kan yang megang lisensi untuk kompetisi aeropress di Indonesia ini adalah ABCD. Sebelumnya gak ada, baru dari tahun 2016. Ini adalah yang kedua,” Willy selaku juri kepala dalam IAC 2017 menjelaskan. “Dan sebenernya kan kompetisi ini untuk fun juga. Jadi kita tidak mau terlalu serius juga. Jadi peserta mau pake baju casual, mau pake celana pendek, mau dandan apa aja terserah.”

Tahun lalu, Willy berkata, bahkan ada penilaian untuk best costume. Para peserta sampai ada yang pakai baju samurai dan baju kungfu.

“Jadi memang ini acara seru-seruan,” imbuh Willy. “Tapi pemenangnya kita kirim ke world.”

Keseruan terlihat dengan kehadiran peserta yang mengenakan kostum dan menari dengan iringan musik dari kejauhan ketika menyeduh kopi. Salah satunya, adalah peserta dari Magelang, Anugrah Aji Pratama.

“Sebenernya saya pake kostum itu karena kan ini konsepnya battle aeropress kan harusnya. Cuma, kalo pas main hari kemarin-kemarin kok orang-orang pada serius-serius, terus saya memutuskan pake kostum yang nyeleneh ya supaya juga fun. Seneng-seneng, kan, gitu,” ujar barista yang mengaku akrab dipanggil Anu.

Meski bersenang-senang, Anu tidak main-main dalam mempersiapkan kompetisi. Peserta yang sudah mengikuti beragam kompetisi dan menjadi juara ke-3 dalam kompetisi AeroPress di Yogyakarta tahun lalu ini mengaku terus berlatih, hingga meracik airnya sendiri, untuk dibawa ke dalam kompetisi.

“Kalo untuk latihan pasti ya, karena harus latihan. Karena kopi ini kan termasuk kopi yang susah untuk diseduh kan—nah di situ saya sampai harus mengulik air segala. Jadi, saya menggunakan air khusus untuk menyeduh kopinya,” cerita Anu.

Selain dari kalangan barista, beberapa peserta mengaku hadir karena mencintai kopi dan ingin mengaktualisasikan diri lewat kompetisi. Salah satunya adalah Aras Amri, seorang mahasiswa jurusan komunikasi yang baru saja lulus. Dari sering main ke kedai kopi teman, Aras belajar untuk memahami kopi lebih dalam hingga berani maju dalam kompetisi.

“Saya cuma nimbrung-nimbrung di coffee shop temen-temen, tapi saya seneng kopi, cinta sama kopi. Pokoknya saya seneng ngasih kopi ke orang yang seneng minum kopi. Tapi juga seneng mengenalkan sama orang yang penasaran sama kopi,” ujar Aras, yang mengaku IAC 2017 adalah kompetisi keduanya.

Dalam kompetisi yang diikuti oleh 81 peserta ini, kompetisi dibagi dalam 27 grup yang berisi masing-masing tiga peserta. Dengan sistem compulsary di mana peserta diberikan biji kopi yang sama, tiap kompetitor harus mengulik resep terbaik dalam  menyeduh kopi dengan alat AeroPress. Setelah satu grup selesai, masing-masing cangkir peserta akan dibawa ke meja juri. Usai dicicipi, juri akan langsung memilih satu cangkir terbaik dan pemilik cangkir pun langsung maju ke babak selanjutnya.

Pepeng dari Klinik Kopi, salah satu juri di penyisihan Indonesia AeroPress Championship 2017 wilayah Yogyakarta.

Antusiasme Tinggi Untuk Mewakili Indonesia di Ajang Dunia

Rangkaian kompetisi yang diadakan untuk seluruh barista Indonesia–mencakup wilayah Regional Barat, Regional Timur, dan Regional Tengah—ini akan berpuncak di acara Jakarta Coffeeweek bulan September nanti.

“Jadi, Indonesia AeroPress Championship yang diadakan di Jogja ini adalah pertandingan regional yang kita namakan Regional Tengah. Regional Tengah itu mewakili kota Jogjakarta—Jawa Tengah dan Kalimantan,” ujar Sella Juliani, selaku Event Coordinator dari IAC 2017. “Lalu berikutnya kita akan melakukan kompetisi di Surabaya pada bulan Juli, lalu Medan pada bulan Agustus.”

Sella Juliani, perwakilan ABCD School of Coffee sekaligus Event Coordinator IAC 2017.

Tanpa memberi kesan nyeleneh dengan semangat kebebasan yang diusung, kompetisi ini menarik minat banyak sekali peserta. Meski hanya menampung 81 peserta untuk tiap regional, jumlah peserta yang mendaftar mencapai ratusan hanya dalam waktu beberapa menit setelah pendaftaran dibuka.

“Kemarin itu sih kita cuma butuh waktu 20 menit ya dari kita buka pendaftaran itu udah 200 sih, 81 dengan sisanya waiting list ya,” Sella kembali menjelaskan.

Dalam rangkaian Indonesia AeroPress Championship 2017 ini, sejumlah 81 finalis yang meliputi 27 pemenang di tiap regional akan kembali beradu di babak final pada bulan September. Juara terpilih nantinya akan diberangkatkan ke ajang World Aeropress Championship 2017 pada bulan November nanti di Seoul, Korea Selatan.

(Tulisan oleh Lani Eleonora;
suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto oleh Andreansyah Dimas.

Hubungan kerjasama oleh Clarissa Eunike.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply