“Lebaran sebentar lagi, berpuasa dengan gembira~”

Lagu ini—baik versi Bimbo maupun Gigi—dijamin akan mengalun di mana pun menjelang hari terakhir bulan Ramadhan. Seakan menjadi pengingat bahwa waktu untuk kembali bersilaturahmi dengan seluruh anggota keluarga besar sudah kian dekat. Agar tak gentar menghadapi beragam pertanyaan yang mengusik kehidupan personal, tim kopikini.com akan memperkenalkan kamu kepada, Qahwa.

Jika dalam tradisi lebaran di Indonesia kehadiran ketupat sudah wajib hukumnya, bagi beberapa negara Timur Tengah kehadiran kopi justru tak pernah luput dari meja tamu. Qahwa yang berarti kopi dalam bahasa Arab, dikenal sebagai minuman tradisional yang selalu disajikan pada hari-hari penting.

Eman Hussein, penulis yang fokus pada perkembangan isu di Timur Tengah pernah menulis tentang tradisi Idul Fitri masyarakat di Palestina. Dalam salah satu artikelnya di BarakaBits ia mengatakan, kopi dan coklat adalah hidangan yang wajib untuk para tamu. Bukan hanya harus disediakan oleh pemilik rumah tapi tamu juga wajib menghabiskan kopi dan coklat yang disediakan. Akan dianggap sangat tidak sopan jika menolak.

Sireen Takrouri pemilik kedai Arabian Coffees di kota Birmingham, Inggris, memaparkan bahwa Qahwa di tiap negara Arab berbeda tergantung tradisi dari masing-masing wilayah. Perbedaan paling besar ada pada profile roasting biji kopi yang digunakan. Sementara campuran jenis rempah hampir selalu sama.

Seperti misalnya di Ramallah, Palestina, seduhan kopi dibuat dari biji kopi medium roast. Di Amman, Yordania, biji kopi biasa dipanggang lebih lama hingga mencapai tingkat kematangan dark roast. Sementara di Riyad, Arab Saudi, biji kopi golden roast lebih disukai. Dari ketiga negara Arab tadi kapulaga selalu menjadi kunci. Khusus negara Siria, sedikit lebih mirip dengan espresso yang diseduh dari biji kopi dark roast tanpa tambahan rempah apapun.

Ada Apa Dengan Kapulaga?

Kental, kuat, dan kaya akan rempah seperti kapulaga, jahe, cengkeh dan saffron membuat Qahwa menjadi eksotis. Saat disajikan panas alih-alih aroma kopi, indra penciumanmu akan lebih dulu menangkap aroma kapulaga yang mendominasi. Bagi pecinta kopi garis keras mungkin akan menyerukan, “Kapulaga, apa yang kamu lakukan kepada kopi itu jahat!”

Tenang Coffeemates, kehadiran kapulaga dalam Qahwa bukan tanpa sebab.

Ingat, kita sedang membicarakan kopi tradisional Arab yang selalu disajikan untuk acara-acara besar. Mulai dari upacara pertunangan hingga pernikahan, menyambut kelahiran hingga kematian, begitu juga di hari raya. Dalam perayaan-perayaan tersebut beragam jenis makanan seperti Maqluba atau nasi Briyani yang kaya akan santan dan daging kambing pasti akan tersaji. Serupa dengan hidangan lebaran di Indonesia, daging-dagingan dan santan adalah teman. Halo, kolesterol!

Di sinilah kapulaga menjadi pahlawan. Tercatat dalam TheHealthSite, kapulaga dipercaya kaya antioksidan, kalsium dan vitamin A, B, dan C. Ini penting untuk proses detoksifikasi. Kandungan riboflavin di dalamnya juga dapat membantu untuk membersihkan darah, melancarkan pencernaan, hingga menurunkan darah tinggi.

 

Kapulaga, solusi mengatasi leher kencang.

 

Usai menyantap rendang, opor ayam, gulai kambing, sambal goreng ati dan teman-temannya kamu juga bisa mengunyah kapulaga untuk menyingkirkan bau mulut. Bahkan tiap restoran di India selalu menyediakan semangkuk kapulaga beserta gula batu untuk dikunyah sebagai hidangan penutup gratis.

Bisa jadi Coffeemates, resep kopi Arab ini dapat kamu coba di rumah saat lebaran nanti. Masih ada waktu beberapa hari untuk mengulik resep yang tepat. Tapi sebelumnya ada tiga hal yang harus kamu ingat sebelum memulai:

  1. Direbus bukan diseduh

Dalam buku resep Delights from the Garden of Eden, Nawal Nasrallah menjelaskan kopi Arab biasa dibuat dalam panci khusus bernama dallah, tapi kamu bisa membuatnya dalam panci biasa. Gunakan biji kopi light roast dengan gilingan sangat halus. Kemudian tambahkan air mendidih dan kapulaga. Rebuslah dalam waktu 10 hingga 15 menit. Setelah itu diamkan hingga bubuk kopi mengendap sempurna di dasar panci.

Dallah, wadah khusus untuk memasak Qawah.

Dalam bukunya The Aleppo Cookbook, Marlene Matar menjelaskan biasa satu porsi kopi hanya berisi sepertiga dari cangkir. Setara dengan seporsi espresso.

  1. Tanpa Gula

Menurut Julie R. Thomson dalam HuffingtonPost, kopi tradisional Arab biasa dinikmati tanpa gula dan memang seharusnya terasa pahit. Oleh karena itu di Palestina biasa kopi disajikan bersama dengan coklat sebagai kudapan untuk menyeimbangkan rasa pahit kopi.

Sepotong cokelat atau turkish delight menjadi penyelamat.

  1. Harum Rempah

Rempah-rempah adalah kunci utama untuk membuat kopi tradisional Arab. Kapulaga yang menjadikan Qahwa sangat otentik. Menurut Lamees Ibrahim dalam bukunya The Iraqi Cookbook, kapulaga biasa digunakan dalam jumlah besar dan digiling bersama biji kopi. Setelah direbus dengan kapulaga kamu bisa menambahkan jahe, cengkeh dan saffron yang akan membuat warna kopi tradisional Arab berwarna keemasan.

Lebaran tinggal sebentar lagi. Maafkan tiap pertanyaan menyebalkan yang akan terlontar nanti.

Niscaya Coffeemates, dengan bekal secangkir kopi kaya kafein dan rempah ini kamu sanggup menerima gempuran pertanyaan menyebalkan. Karena seperti biasa, ngopi bisa menjadi solusi untuk menjaga ketahanan batin dan kelapangan dada dalam menjalani hari. Terlebih untuk menghadapi desakan ibu yang sudah tidak sabar minta cucu.

Selamat mencoba, Coffeemates!

 

(Disadur dari stylecrace.com, yourmiddleeast.com, huffingtonpost.com, barakabits.com

Tulisan dan suntingan oleh Lani Eleonora

Foto-foto dari pexels.com dan pixabay.com)

 

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply