Menjadi seorang barista wanita memiliki tantangannya sendiri. Bekerja dalam dunia yang masih didominasi oleh laki-laki membuat barista wanita harus bekerja lebih keras untuk menunjukkan kemampuannya. Apalagi, untuk mengikuti kompetisi kopi.

Carissa, adalah satu dari hanya 19 peserta wanita dari 137 total peserta yang mengikuti kompetisi Indonesia Coffee Events 2017. Ia mengikuti cabang kompetisi seduh manual di Indonesia Brewers Cup (IBrC) 2017, bersama 3 wanita lainnya dari total 47 peserta di cabang ini.

Keberanian—mungkin juga sedikit kenekatan—membuatnya tampil di panggung kompetisi penyisihan wilayah barat ICE 2017 bulan Februari lalu.

Carissa dari kedai Tanamera PIK, turun dalam penyisihan regional Barat ICE 2017 cabang IBrC.

“Iya, tadinya sebenernya gamau ikut. Cuma disuruh kan—disuruh ikut. Ya udahlah ikut aja,” cerita Carissa ketika ditemui tim kopikini.com usai turun panggung penyisihan ICE 2017 wilayah Barat pada Jumat (10/2) lalu

Baru terjun ke dunia kopi sebagai barista selama 4 bulan tidak lantas membuatnya urung mengikutsertakan dirinya dalam panggung kompetisi. Meski, ia mengaku persiapan yang dilakukan sebelumnya belum maksimal.

“Sebenernya, kalo bikin ininya (persiapan kompetisi—red) kayak seminggu sebelumnya gitu.” Carissa bercerita sambil tertawa, “Soalnya beans-nya itu baru dikasih H-3 sebelum pertandingan ini. Jadinya kayak mau bikin presentasi juga bingung mau ngomongin apa, kan gak ada beans-nya gitu. Jadi ya udah baru bikin deket-deket. Terus tiba-tiba baru—kaget gitu tiba-tiba udah mepet banget.”

Meski pernah memenangkan kejuaraan seduh manual khusus barista wanita MIKARIKA bulan November 2016, Carissa mengaku tak yakin lolos dalam babak penyisihan Indonesia Coffee Events 2017. Namun, keikutsertaannya sangat mewarnai panggung kompetisi yang kerap minim peserta wanita. Ia berujar, persiapannya yang belum maksimal justru menggerakkannya untuk mencoba lagi tahun depan.

Barista Wanita Dalam Kompetisi

Kehadiran barista wanita dalam kompetisi memang sudah menjadi isu yang kerap diperbincangkan di dunia kopi. Pasalnya, kehadiran wanita acapkali absen dalam daftar peserta apalagi pemenang.

Sejak dimulainya World Barista Championships pada tahun 2000, sama sekali belum pernah ada wanita yang mengantongi gelar juara. Ada pula tahun-tahun di mana peserta wanita turut absen dalam kompetisi tersebut. Total rata-rata peserta wanita dalam World Barista Championship hanya sebanyak 25%. Ketika melihat berbagai kompetisi kopi, perwakilan kaum hawa pun masih kurang, bahkan dalam kompetisi melukis latte yang kerap dinilai cukup feminin.

Lantas, demi mengerti apa penyebabnya, Coffeemates kami ajak untuk ikut bertanya: kenapa secara general wanita yang ikut berkompetisi tidak sebanyak laki-laki?

Vionna Austine, turun dalam penyisihan regional Barat ICE 2017 cabang IBrC.

Joanne Jonazh, turun dalam penyisihan regional Barat ICE 2017 cabang IBC.

Cerianne Bury, seorang profesional industri kopi dari Belanda sempat menulis soal ini. Dalam blognya, yang kemudian menuntunnya diwawancarai oleh tim sprudge.com, ia menyebutkan soal konstruksi sosial dan menjabarkan hasil risetnya tentang ilmu sosial dan gender.

“Ketika kita tidak melibatkan faktor ‘percaya diri’ dan ‘sikap mengambil resiko’, keikutsertaan wanita dalam kompetisi tetap 12% lebih rendah dari laki-laki,” papar Bury. “Tak hanya itu, wanita cenderung batal mengikuti kompetisi ketika peserta wanita lainnya lebih sedikit,”

Bury berpendapat, meski banyak pihak yang sudah menulis tentang peran wanita dalam kopi, tidak banyak dari mereka yang membaca ilmu sosial dan menganalisis tingkah laku untuk mencari alasan yang tepat.

Positif, Bury menambahkan, “Saya rasa jika kita–dan dengan ‘kita’ yang saya maksud adalah komunitas specialty coffee–memahami apa penyebabnya, kita dapat merubahnya.”

Yessylia Violin Angkasa, turun dalam penyisihan regional Barat ICE 2017 cabang IBC.

Cerianne Bury sendiri pun baru merasa percaya diri untuk mengikuti kompetisi pada tahun 2013, setelah menekuni dunia kopi selama enam tahun. Ia kemudian menjadi runner-up kedua dalam Dutch Latte Art Championship 2013, lalu menjadi juri untuk Dutch Barista Championship pada tahun 2014 dan 2015.

Bury mengaku, ia memutuskan untuk tidak ikut serta dalam kompetisi sebelumnya karena merasa tidak percaya diri.

“Saya pikir saya tidak akan pernah bisa menang, dan jika saya tidak bisa menang kenapa pula saya ikut kompetisi?” cerita Bury. “Hingga pada satu titik saya berpikir, ‘Saya sudah bekerja di dunia kopi selama enam tahun. Saya tau apa yang saya lakukan, saya tau saya bagus dalam hal ini, berarti saya juga bisa ikut berkompetisi dan belajar’.”

Ia pun mengatakan, meski tidak memenangkan kompetisi, banyak sekali hal menarik yang membuka matanya dan membuatnya tumbuh secara personal. Pengalamannya juga membuatnya kenal dengan orang-orang yang bekerja dalam industri kopi di Belanda yang levelnya bahkan lebih tinggi.

“Tanpa jaringan perkenalan ini, karir saya di dunia kopi mungkin akan berbeda. Dalam hal ini, ikut berkompetisi dan kompetisi itu sendiri membuat karir saya di dunia kopi lebih baik,” ujarnya.

Jane Sugianto, turun dalam penyisihan regional Barat ICE 2017 cabang ICTC.

Setelah tulisannya menuai banyak kritik, ia menutup sesi wawancaranya bersama sprudge.com dengan pernyataan tegas nan singkat.

“Saya setuju. Jika para wanita tidak ingin ikut berkompetisi, ya tidak usah. Maksud saya, saya kadang juga tidak ingin ikut kompetisi—saya bukan orang panggung–dan itu tidak masalah. Namun, pertanyaannya menjadi: kenapa kamu tidak ikut berkompetisi?”

Carissa, di babak 12 besar pada ajang kompetisi seduh manual Bandung Brewers Cup (BBrC) 2016, Desember lalu.

Belajar dari Cerriane Bury dan Carissa, Coffeemates diajak untuk ikut serta mendukung para barista wanita untuk ikut serta dalam kompetisi. Ini bukan permasalahan akan kalah atau menjadi pemenang, namun sejauh mana kemauan membawa diri untuk belajar ke tingkat yang lebih jauh dan menantang.

Jadi, Coffeemates yang mungkin kebetulan seorang barista wanita, kenapa kamu tidak ikut berkompetisi?

(Tulisan oleh Lani Eleonora;
suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto oleh Andreansyah Dimas.

Informasi tambahan disadur dari baristamagazine.com, coffeestrides.blogspot.co.id, & sprudge.com)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply