Setelah dua kali mewawancarai diri sendiri lantaran putus asa, Pandji akhirnya dijangkau oleh Kopikini.com saat baru kembali dari tur dunia ‘Juru Bicara’. Berkelana melintasi 23 kota di 8 negara sejak April 2016, pelopor stand up comedy di belantika nusantara ini akan menutup rangkaian tur-nya di Jakarta, 10 Desember 2016 mendatang. Dengan spektakuler, tentunya. 3000 tiket pertunjukkan habis terjual sudah. Namun memang dasar komedian, tak habis-habisnya Pandji dengan kejutan. Pasca meratapi tiket yang habis terjual, Senin (28/11) malam kemarin segenap umat Pandji tersengat pengumuman: akan ada show tambahan di hari yang sama.

Ditemukan di sudut kedai Coffee Toffee Margonda sore itu, Pandji buka-bukaan lebih dari soal rekam jejak karirnya sebagai penyanyi hiphop dan standup comedian. Terjadilah ngalor ngidul soal hikayat berburu ‘passion’, penemuan bakat yang tidak sengaja, serta revolusi Pandji untuk kopi jika suatu hari jadi menteri. Tak lupa, kami juga menggugat penjelasan seorang Pandji Pragiwaksono atas ritual ngopinya yang misterius. Sejatinya mengidap asam lambung, Pandji tetap bertahan ngopi di atas panggung sejak tahun 2013.

Setiap sebelum naik panggung, Pandji selalu minta disiapkan secangkir kopi hitam. Selama penampilan di panggung pula, Pandji kerap terlihat membawa cangkir kopi.

It helps me calm down and lower my tempo,” ujar Pandji, mengaku dosa. “Karena masalah utama saya dalam saya stand up itu saya ngomong terlalu cepat. So, coffee actually calms me down.”

Sebagai seorang pengidap asam lambung, Pandji sendiri tidak bisa minum kopi yang terlalu asam. Namun, antara sekte robusta dan arabika masih jadi misteri baginya. Ia tahu, ia lebih gemar salah satu. Namun ia tak yakin yang mana.

Manapun alirannya, toh selama tur dunia Pandji selalu menyempatkan diri ke kedai kopi lokal untuk belanja bubuk kopi. Pulang-pulang, di rumahnya kini ada banyak kopi dari kedai-kedai kopi terkenal di setiap kota. Meski mengantongi koleksi kopi yang menggoncang iman, Pandji teguh ‘membatasi’ konsumsi kopinya jadi 3 cangkir saja sehari. Setidaknya, begitu pengakuannya pada Kopikini.com.

konferensi-pers-presscon-kopi-juru-bicara-pandji-pragiwaksono-coffee-toffee-margonda-2

Usai basa-basi seputar kebiasaan ngopi, kami menyinggung topik yang berkali-kali muncul saat Pandji bercerita tentang tur dunia ‘Juru Bicara’. Konon, kegundahan soal ‘passion’ tak pernah absen jadi materi stand up Pandji di ‘Juru Bicara’.

Rupanya, gelisah ini lahir dari penemuan Pandji soal kebiasaan ‘berkarya’ orang Indonesia.

As a comedian, I travel a lot. Jadi setelah keliling Indonesia dan keliling dunia, abis itu jadi sangat, sangat jelas. Undeniably, evidently clear. Bahwa yang ngebedain orang di luar negeri dengan kita adalah, yang lain benar-benar sudah terbiasa untuk bikin karya. Sementara, ini (Indonesia—red) masih jadi generasi pekerja. Sekolah-sekolahnnya masih melahirkan pekerja, bukan karya, gitu.

And it became a problem, karena berarti kita tidak menciptakan peluang kerja. Nggak menciptakan entrepreneur.

Jadi, minimnya orang yang tahu passionnya dia apa, sangat berdampak sama outlook dari Indonesia.

Saya nggak bisa mengubah kurikulum, tapi saya bisa memancing orang untuk—ngasih tahu bahwa, kalau lu di sekolah nggak punya nilai yang bagus, belum telat untuk lu menemukan apa yang jadi passion lo. Cause that’s the person who I am to be.

Pandji sendiri sempat merasakan pahit dari sistem pendidikan. Memulai karirnya sebagai penyiar radio dan lalu presenter TV, Pandji sendiri mengalami proses panjang sebelum menemukan jalannya sebagai stand up comedian.

Jadi, kan, SD 6 tahun. SMP 3 tahun. SMA 3 tahun. Consistently ranking paling bawah. I thought I was amount to nothing, right.

Suatu hari, tahu kalau seneng ketawa—eh, seneng bikin orang ketawa dan seneng ngomong.

Dulu mikirnya, saya harus jadi presenter TV. Dimulai dari siaran radio, akhirnya jadi presenter TV. Akhirnya secara ekonomi mulai membaik, istri nanya, “Kamu nggak mau mulai berkarya, ya?”

Tak jarang terdengar keluhan, kebutuhan ekonomis jadi batu sandungan saat ingin mengejar passion. Sebagai salah seorang yang kini menjalani ‘passion’-nya, Pandji punya resep sendiri soal ‘banting setir’.

Ada caranya. There’s actually a very good book. Yang nulis Yoris Sebastian. Judulnya, ‘Creative Junkies’ (lengkapnya ‘Oh My Goodness: Buku Pintar Seorang Creative Junkies’–red). Dia ngasih tahu gimana caranya kita transisi dari yang aman dan stabil, ke passion. Teorinya namanya 70-20-10.

70%–jadi misalkan kita masih kerja, nih. Tapi kita tahu kita punya passion, tapi gue nggak berani sih 100% passion. Ini kerjaan gimana, nih? Duit, nggak ada di passion, gitu kan.

Jadi, 70% dari resource lo, lakuin sesuatu yang aman dan stabil. Which is your work.

20% dari resource lu, waktu tenaga, uang, alokasi untuk apa yang jadi passion.

10%? Just random experiment. Apapun yang kita mau coba, cobain aja. Just be versatile, gitu. Nanti, yang 20% ini akan makin baik. Nanti dia akan ngelebar, ngelebar, ngelebar, dan siap untuk crossing over untuk jadi yang 70%.

Jadi, kita jangan langsung lompat sementara belum ada duitnya.

…*catet*
*pulpen merah, garis bawah, post-it*

Pelan-pelan aja. Kayak misalkan ada orang, nih. Misalkan, barista Coffee Toffee, ‘Gua pengin jadi stand up comedian. Gua mau 100% jadi stand up comedian. Tapi nggak ada duitnya.’

Ya memang, jangan. Lagian kan lu nggak lucu-lucu amat juga, gitu. Jangan pede, gitu.

Di sini kami terbahak. Pandji mengatakannya dengan wajah sangat datar.

Ngerti nggak sih maksud gue?

Kembangin dulu aja diri lu. 20% waktu lu buat jadi stand up comedian. Nanti, ketika dia makin bagus, dia akan melebar, dan akhirnya nanti transisi ngegantiin yang kerja, gitu. Nah, 10%  yang tadi, akan ngisi 20% yang sekarang. So it becomes something new, gitu.

Jadi, kalau misalkan kita masih kerja, dan takut belum ada duitnya di dunia passion, lakuin secara beriringan.

You owe to yourself to find a way. Untuk jalanin dua-duanya.

Sembari mengatakan ini, mata Pandji berbinar. Jadi agak sulit buat kami untuk tidak terinfeksi semangatnya. Tapi lalu muncul lah di kepala, perkara besar yang kerap jadi kegelisahan mereka yang kerap pusing soal pilihan karir.

Bagaimana ceritanya kalau kita belum tahu passion kita?

Untuk anak-anak dan orang gede, agak beda, nih.

Kalau masih sekolah, harus banyak main. Iya, karena bermain adalah belajar yang dilakukan secara sukarela. Kalau kesehariannya habis untuk belajar doang, dia nggak akan pernah bener2 tahu dia sebenernya sukanya apa.

Kalau udah kerja? Harus banyak2 melakukan kegiatan dengan pro bono. Pro bono itu istilah hukum untuk sukarela. Kenapa? Kalo lu ngelakuin sesuatu tanpa dibayar, dan lu mendapatkan kebahagiaan di situ? Besar kemungkinan itu passion lu. You’re happy, even without getting money.

Nah. Tapi berarti, itu butuh eksplorasi. Jadi harus sering melakukan kegiatan secara pro bono.

‘Mau bantuin gue motret, Nggak, untuk kawinan?’
Eh gua mesti ngurusin—misalnya—day carenya buat bos gua nih. Mau nemenin, nggak?’.

Ya nemenin, gitu. Lama-lama, karena kita sering melakukan kegiatan secara pro bono, kita jadi tahu. When I’m happy doing this, I don’t get money. Coba lakuin lagi. Masih happy. Coba lakuin lagi. Ada masalah? Tapi masih happy. Dari eksplorasi itu, kemungkinan akhirnya ketahuan bahwa itu mungkin passionnya.

Sangat praktis. Sangat menggoda untuk dicoba.

Namun tiba-tiba, terpikirlah dilema lain yang kerap muncul saat bicara ‘passion’. Sialnya, seringkali yang kita bisa, belum tentu kita suka. Yang kita suka, tidak pasti kita bisa. Kami pun bertanya.

Antara ‘suka’ dan ‘bisa’, yang mana yang disebut ‘passion’?

Memang berbeda, ‘suka’ dan ‘bisa’. But there’s always a crossing, sebenarnya.
Dan kalau misalkan belum ada, that’s the opportunity.

Let’s say, random thing. Let’s say, ambil contoh, matematika, dan olahraga. Seemingly, dua dunia yang random. But it’s actually not. Sekarang, (majalah—red) Economist, orang yang kerjanya ngeliat statistik di olahraga, itu one of the highest paying job.

Alhasil muncul lah, pertanyaan yang ‘tidak bisa tidak’ ditanyakan langsung kepada sosok hidup yang menjalani passion-nya ini.

Seperti apa proses pencarian passion ini di diri Pandji Pragiwaksono?

Gue ketemu passion gue karena sebuah ketidaksengajaan sebenarnya.

It goes—bahwa orang tua gua cerai. Sebenarnya, dimulai dari bokap gua bangkrut. Terus jadi berantem, terus cerai, terus bokap gua lagi nggak tahu di mana. Terus, nyokap gua jadi punya rumah kecil.

Somehow, teman-teman gua senangnya nongkrongnya di rumah gua. Padahal rumah gua nggak ada apa-apa. So, sebagai tuan rumah, kan nggak enak ya teman maennya ke rumah tapi lo nggak bisa nyediain apa-apa. So you start trying to make them laugh.

It was junior high. Ternyata gua bisa bikin orang ketawa.

Terus, karena gua tau gua bisa, gua jadiin itu sebagai self defense mechanism. Supaya nggak di-bully, gue ngelawak. So the bad kids like me, and the good kids obviously like me. So it became self-defense mechanism. Then I became good at making people laugh. Cause it’s a self defense mechanism. I was very short kid. Kuliah juga kayak gitu.

Kami mematung. Sekilas ada guncang mini dalam diri. Tak yakin kami, mana yang lebih jadi kejut: keterbukaannya, atau kemampuannya mengubah semua itu menjadi kekuatannya.

Lama-lama gua sadar, setiap kali kita lagi nongkrong, terus gue ngelawak, mereka menyisih. Mereka jadi penonton, gitu. Kalau kelas lagi kosong, gua disuruh maju, gua disuruh ngelawak, gitu. Gua mulai sadar, ternyata gua seneng. Ngelawak. Dan anak-anak nanggepin gua.

Nah, waktu gua kuliah, gua tuh mikir, kenapa gua seneng ngomong dan bisa bikin orang ketawa, dan kuat ngomong lama. There has to be a job yang mengakomodir ini.

Suatu hari, nonton DVD bajakan Robin Williams, ‘Live On Broadway’. Pertama kali ngeliat stand up comedy, and my head just blew off. Then, I know I’m supposed to be this thing.

Tapi it was 2003, I think. And stand up comedy belum ada di Indonesia. It became a dream, yang nyimpen. Baru tahun 2010 gua berani stand up. So what—7 years.

2010 baru berani stand up. 2011, stand up comedy meledak di Indonesia, I was a part of it.
And then, I became the person I am today.

Mimpi yang mengendap 7 tahun. Bicara soal penantian, ya….
Tapi Pandji tidak pasif. Sebagai salah satu stand up comedian Indonesia angkatan pertama, Pandji pastinya buka jalan sendiri. Eh, atau dia menunggu momentum? Kalau begitu…

Bagaimana ceritanya Pandji bisa berkarya, saat panggungnya justru belum ada?

Nah. Sebelum jadi stand up comedian, gue udah ngerap, I told you. Jadi, 2008 gue ngerap, dan penonton gue nggak banyak. Emm—apa namanya, fan base gue nggak banyak. Tapi gue bikin waktu itu sesuatu namanya private concert. Twitter private concert. So it’s a hip hop show, tapi cuma untuk 100 orang via Twitter.

Karena udah mimpi jadi stand up comedian dari lama… Gue pikir, toh ini kan penonton gue juga ya. Cobain ah, colongan stand up. Seenggak lucu-enggak lucunya, ini kan fans-fans gue juga.

Terus gue coba stand up. I threw a ‘bit’I remember the ‘bit’ was about Susno Duaji. Jadi Susno Duaji tuh pada tahun itu tuh disidang. Terus dia yang, ‘Saya bersumpah…’ gitu gitu. He has a very funny face. Terus, I used that joke, penonton ketawa.

Bulan berikutnya—it’s a monthly show, by the way. Selama setahun. Bulan berikutnya, gue coba 15 menit. Penonton masih ketawa. Bulan berikutnya, gue coba 30 menit, penonton masih ketawa. And then it became a habit. Videonya gue rekam, gue upload di youtube.

Saat itu, belum ada satu pun orang Indonesia yang ngeupload video dia stand up pake bahasa Indonesia. Gue tulis videonya, ‘Stand Up Comedy Indonesia 1’, sampe ‘-5’.

Kompas TV baru berdiri tahun 2011, pengin punya acara stand up. Bosnya lagi google-google, buka-buka YouTube, stumble upon my video, and then he thought, ‘gila ternyata ada stand up comedy di Indonesia.’

Gue dipanggil, disuruh ngehost, video gue dipake untuk promo, and then mereka bikin acara ‘Stand Up Comedy Indonesia’. Kompetisi stand up di TV. Video gue tuh jadi video untuk nunjukkin ke orang-orang. And then, it blew up. Gitulah, kira-kira.

Memang ya, the power of semesta world wide web ini. Duh.

Akhir cerita, kami kembali menggocek Pandji soal kopi. Sebagai pelawak tunggal yang kerap mengangkat isu sosial budaya, kami meminta komentar Pandji soal budaya ngopi Indonesia yang sedang hangat-hangatnya.

Tak jauh-jauh dari semangat identitas, Pandji melihat ‘Kopi Tubruk’ sebagai merk yang berpotensi mendunia.

Kalo gue Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, atau Barekraf, gua akan wajibkan seluruh coffeeshop di Indonesia punya menu namanya Kopi Tubruk. Karena that brand, ‘Kopi Tubruk’, has to stay di kepala orang.

Kopi Tubruk itu adalah…. Kan ada cappuccino, apa, segala macem. Kopi Tubruk is actually a brand and a treatment on coffee yang seharusnya bisa lebih mendunia. Andai saja dia dibranding dengan baik, gitu. Jadi, Indonesia harus lebih pinter memasarkan kopinya kepada dunia. Karena peluangnya gede. Ada peluang untuk menduniakan kopi tubruk, as a brand. Jadi kayak, ‘Teh Tarik Malaysia’, ‘Thai Tea’. Ada nempelnya. ‘Thailand’ Tea, Teh Tarik ‘Malaysia’.

Gue ngeliat sendiri waktu gue di Shanghai. Orang beli kopi Luwak, ngantri panjang banget. Padahal, di China pun mahal. Kopi Luwak yang ngantri panjang banget. Dan gua bisa masuk karena waktu itu acaranya Kementerian Perdagangan. Terus gue ngeliat. Dari biksu, sampai pengusaha, minumnya kopi Luwak.

There’s a potential, yang harus dimanfaatkan oleh Indonesia. Let’s not just ‘make coffee’ part of our lifestyle. Let’s make coffee part of our identity.  Menjadikan kopi Indonesia jadi identitas kita, gitu.

I even wanna make a talkshow, namanya ‘Tubruk’.

NAH. Tak pakai lama, kami langsung sigap bertanya ‘kapan’.
Namun…

Nanti kita lihat. ‘Tubruk’ itu adalah sebuah talkshow di mana laki, perempuan—eh, dua orang, bertubrukan, ide dan gagasannya, ditemani kopi item.

It’s going to be a talkshow. ‘Cause I like to interview people.

Baiklah.

Sangat kami tunggu.

Amin, amin.

Sip. Thank you banget, Mas.

Makasih banyak.

konferensi-pers-presscon-kopi-juru-bicara-pandji-pragiwaksono-coffee-toffee-margonda-3

(Perbincangan, tulisan, & suntingan oleh Klara Virencia;

foto oleh Clarissa Eunike.)

 

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply