Selalu ada yang menarik tentang cerita bagaimana seseorang dapat merubah jalan hidupnya dengan drastis. Bagi Tetsu Kasuya yang meraih gelar sebagai juara dalam World Brewers Cup tahun lalu, penyebab terjunnya ia ke dunia kopi adalah penyakit diabetes yang dideritanya sekitar empat tahun lalu.

Sebagai seorang konsultan IT, minuman soda sudah menjadi bagian dari menunya sehari-hari. Cola adalah kegemarannya. Namun karena diabetes dan harus dirawat di rumah sakit, mau tidak mau dia harus menghentikan kebiasaannya mengkonsumsi minuman ini.

Dengan alasan sama-sama berwarna hitam, Tetsu pun memilih kopi sebagai pengganti. Tidak main-main ketika memutuskan untuk mulai mengkonsumsi kopi, Tetsu membeli peralatan untuk menyeduh kopi sendiri dari kedai kopi di dekat rumah sakit. Kopi yang ia buat saat itu, semasa dirawat, pun jadi kopi pertama yang ia seduh sendiri.

Bukan secangkir kopi yang bisa ia banggakan, rupanya. Meski datang dari biji kopi yang sangat bagus, ia menganggap kopi seduhannya ini sangat tidak enak. Ia tidak tahu apa penyebab seduhan kopinya jadi tidak enak, akunya. Inilah yang membuat rasa penasarannya akancara membuat kopi enak kian membuncah. Ia pun terbawa untuk mengenal kopi lebih dalam.

Tetsu Kasuya dengan alat seduh V60 andalannya di World Brewers Cup 2016.

Bukan Hidup untuk Bekerja, Tapi Bekerja untuk Hidup

Setelah harus dirawat di rumah sakit karena penyakitnya, Tetsu bertekad untuk hidup bagi hal-hal yang dicintainya. Ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai konsultan IT dan menyelami kopi, yang berujung menjadi pilihan karirnya.

Keinginannya terjawab ketika tiga tahun lalu, Coffee Factory tempatnya bekerja sekarang, membuka lowongan pekerjaan. Tatkala diterima bekerja di sana, pintu untukmemahami bagaimana cara menyeduh kopi dengan baik dan benar terbuka sudah

Ketika ditanya mengenai kehidupannya yang berubah dengan dramatis dan tiba-tiba, ia mengaku hidupnya tidak mudah. Penghasilannya jauh lebih besar ketika menjadi seorang konsultan IT, dibandingkan bekerja di kedai kopi sebagai barista.

But money is not so important for me. Joy is most important,” aku Tetsu.

(‘Uang tidak seberapa penting untukku. Kebahagiaan jauh lebih penting.’)

Tetsu Kasuya saat membuka presentasi di babak final World Brewers Championship 2016.

Menjadi Terdepan di Kelasnya

Ketika dinobatkan menjadi juara World Brewers Cup (WBC) 2016, Tetsu Katsuya memberikan jawaban bagi siapa saja yang ingin menjadi penyeduh kopi yang lebih baik.

The most important thing is knowing what good coffee is. It’s not difficult to brew. But if you don’t know what good coffee is, you cannot brew that.

(“Hal yang paling penting adalah memahami apa itu kopi yang baik. Menyeduh bukan perkara sulit. Namun, jika kamu tidak  memahami apa itu kopi yang baik, kamu tidak dapat menyeduhnya.”)

Kopi terbaik versi Tetsu adalah kopi dengan rasa manis yang mampu bertahan lama. Rasa asam dan manis yang seimbang itu sempurna, menurutnya. Beranjak dari apa yang ia sukai, ia mengembangkan metode penyeduhan kopi yang membawa Tetsu menjadi yang terbaik di kelasnya.

Para juri WBC 2016 sepakat, metode “the four-six brew” yang ia presentasikan adalah metode yang unik. Tetsu memisahkan total air yang ia gunakan menjadi 40% dan 60%. Pada tuangan pertamanya, menggunakan V60 dari keramik, Tetsu menuangkan 40% (50 gram) air menjadi dua kali tuangan. Ini, menurutnya, menciptakan keseimbangan rasa asam dan manis dalam kopinya. Pada tuangan terakhir, ia gunakan sisa 60% airnya untuk menentukan kekuatan kopinya. Sepanjang proses ini, V60 dari keramik yang ia pilih menjaga suhu kopi tetap stabil.

Menurut Tetsu, ini adalah metode yang sederhana namun sempurna. Hasil akhirnya adalah perpaduan dari rasa manis, kelembutan dan kekuatan kopi Panama Geisha ‘Sylvia’ natural olahan Ninety Plus.

Sebelum mengikuti kejuaraan, setiap hari Tetsu menyeduh kopi dengan berbagai cara dan selalu mencatat hasilnya. Kemudian ia berpikir, apakah ada hukum yang tepat untuk menyeduh kopi dengan citarasa yang tepat? Tidak ada. Metode “the four-six brew” yang ia ciptakan adalah hasil dari 1% inspirasi dan 99% kerja keras, ujarnya.

Juni 2016, Tetsu Katsuya mengejutkan dunia kopi ketika memenangkan World Brewers Cup dengan metode yang melanggar semua aturan. Dia berhenti menuang air berkali-kali, membuat air menetes sepenuhnya sebelum melanjutkan, atas dasar metode yang ia ciptakan tersebut. Namun dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh peserta manapun, ia mampu menyuguhkan kopi dengan keseimbangan rasa yang membuat juri memutuskan Tetsu Katsuya pantas untuk menjadi juara.

(Tulisan oleh Lani Eleonora,
suntingan oleh Klara Virencia;

suntingan foto oleh Andreansyah Dimas;

Disadur dari beanscenemag.com.au,
baristamagazine.com, & perfectdailygrind.com;

Foto-foto disadur dari sprudge.com, perfectdailygrind.com &
video penampilan Tetsu Kasuya di World Brewers Championship 2016.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply