Terlalu banyak keseruan yang sulit dihiraukan di Indonesia Coffee Event 2017 lalu. Selain persaingan menyuguhkan kopi terenak, melukis, dan adu cicip kopi antar peserta kompetisi, ada hal lain yang membuat tim kopikini.com begitu antusias meliput tiap sudut acara.

Salah satunya adalah kehadiran Tetsu Kasuya, juara World Brewers Cup (WBrC) 2016. Selama empat hari penuh, Tetsu menyuguhkan kopi bagi siapa saja yang hadir di depan meja seduhnya. Tim kopikini.com berhasil mengajak Tetsu Kasuya berbincang selepas kami mencicipi hasil seduhnya, Rabu (5/4) lalu.

Kopi ‘Enak’ bagi Tetsu

Bicara soal kopi enak, setiap lidah punya tambatan masing-masing. Begitupun bagi Tetsu Kasuya. Baginya, kopi harus memiliki kejernihan rasa yang mampu menghadirkan manis di lidah.

“Bagiku, kopi enak itu sejernih air dan semanis buah-buahan,” ujar Tetsu, setelah lama berpikir. Bicara soal ‘kopi enak’, ia akui, adalah topik paling sulit di dunia. Tetsu pun memutuskan untuk menjawab apa yang, setidaknya, menurut dirinya ‘enak’. “Paling penting ya, jernih seperti air. Buatku, itu yang terpenting.”

Setelah menjadi juara dalam kompetisi dunia, Tetsu berkesempatan mengunjungi perkebunan kopi Ninety Plus di Ethiopia milik Juara World Brewers Cup (WBrC) 2015 Odd-Steinar Tøllefsen. Di sana, ia disuguhkan kopi terenak dalam hidupnya. Meski kopi Ethiopia dan Panama masih menjadi pilihan utamanya, Tetsu mengaku turut menaruh hati pada kopi Colombia dan Mandailing.

“Sekarang aku tertarik pada kopi Kolombia. Kolombia akan lebih baik ke depannya, menurutku. Begitu banyak perkebunan bagus: ada di dataran tinggi dan punya fasilitas yang sangat baik,” papar Tetsu tentang kopi kegemarannya. Ia lantas menyebut kopi Mandailing sebagai kopi asal Indonesia kegemarannya. Memang, kopi Mandailing menjadi salah satu pilihan di kedai kopi Coffee Factory tempatnya bekerja dulu.

Cinta Barista Sepanjang Jalan

Nyatanya, menjadi seorang juara dunia tak lantas membuat Tetsu puas dan berhenti belajar. Sebaliknya, ia malah merasa tekanan ekspektasi dari banyak pihak kian meninggi. Dengan raut wajah yang selalu menyunggingkan senyum, Tetsu mengucap pelan bahwa ia merasa dirinya belum sepenuhnya barista yang baik.

“Kopi itu sangat sulit. Sangat banyak hal yang harus kupelajari,” ujar Tetsu. “Aku tak lebih dari seorang ‘juara tahun lalu’.”

Baginya, kopi sama sekali tidak bisa disepelekan. Untuk mampu menyeduh kopi yang pantas dinobatkan menjadi ‘kopi enak’, seorang barista pertama-tama harus memiliki kecintaan terhadap kopi. Cinta, yang kemudian menjadi daya gerak untuk mencari tahu lebih dalam tentang perjalanan kopi dari buah hingga tersaji di dalam cangkir.

“Setiap barista yang baik, seperti Hide, Vicky, dan Francesco, semuanya punya hasrat terhadap kopi. Mereka, termasuk diriku, tidak pernah berhenti belajar,” jelas Tetsu tentang ‘barista yang baik’ menurut dirinya. “Jadi, barista yang baik harus punya hasrat.”

Tak jarang, kompetisi menjadi salah satu ukuran kedalaman cinta seorang barista terhadap dunia kopi. Sebelum menyajikan kopi di meja juri, seorang barista kompetisi harus melewati proses yang panjang untuk mengenal asal usul biji kopi yang akan ia gunakan.

Selepas Kompetisi

Tekanan pun dapat hadir sebelum dan selepas kompetisi. Tetsu adalah salah satu saksi hidup dari tekanan yang dihadapi para barista kompetisi. Menjuarai kompetisi bukan berarti terlepas dari beban.

“Tekanannya meningkat. Semua orang berpikir aku barista yang baik, atau salah satu barista terhebat. Padahal bukan. Menurutku, aku bukan barista yang baik. Aku masih belajar dan mencari-cari tahu,” dengan rendah hati Tetsu bercerita.  “Bahkan sekarang, banyak hal-hal kecil tentang kopi yang aku belum tahu. Rasanya begitu.”

Sebagai penyeduh kopi yang berangkat dari titik nol dan keingintahuan yang meluap, Tetsu hanya ingin menunjukkan bahwa semua orang bisa melakukan apa yang ia lakukan. Kopi memang sulit dipelajari. Menyeduh kopi enak memang tidak mudah, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan oleh semua orang. Alhasil, Tetsu tak pernah sungkan berbagi resep seduh ciptaannya yang berhasil membuatnya menjadi juara dunia.

“Sebetulnya, aku tidak punya kemampuan khusus. Aku tidak punya informasi atau pengetahuan rahasia. Tapi aku punya semangat. Ya, mungkin begitu,” ujar Tetsu. “Aku ingin orang-orang dapat membuat kopi yang lebih baik. Bukan cuma mereka yang bekerja di industri kopi, tapi juga penyeduh rumahan. Jadi, metodeku sangat sederhana. Kau dapat menirunya.”

Memutuskan untuk tidak akan mengikuti kompetisi lagi sebagai peserta, kini Tetsu hanya ingin menjadi pendamping bagi barista berikutnya untuk meraih gelar juara dunia.

“Aku tidak akan berkompetisi lagi. Tetap turun kompetisi sebenarnya. Tapi sekarang aku bertanding sebagai pelatih. Ya, aku melatih beberapa barista untuk cabang seduh manual,” ujar Tetsu. Ia lalu menambahkan, “Jadi sekarang, tujuanku adalah menjadi juara dunia sebagai pelatih.”

Tetsu Kasuya, yang tahun ini berencana membuka kedai dan perkebunan kopinya, berharap Indonesia dapat merebut gelar juara dunia berikutnya. Jika memungkinkan, bersamanya sebagai pelatih.

(Liputan oleh Lani Eleonora & Klara Virencia;
tulisan oleh Lani Eleonora;
suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply