Pernah baca buku inspirasional karya Mitch Albom berjudul “The Five People You Meet in Heaven” yang sangat laris itu? Ve Handojo mengaku-aku bahwa buku itu disadur dari tulisannya kali ini.

Intinya, sebagai orang sering mengaku “coffee lover”, suatu hari nanti Anda harus berdamai dengan lima jenis barista ini sebelum bisa dibukakan pintu ke Surga. Kelima barista ini sebenarnya orang biasa, bahkan mungkin hanya bisa bikin kopi pakai mesin otomatis. Namun, yang membedakan mereka adalah satu: bagaimana pelanggan sering memperlakukan mereka.

1) Barista Manis
barista-manisBarista Manis biasanya tidak banyak bicara. Cukup pasang wajah ramah dan “siap membantu” saja. Anda pun bertanya mengenai menu kopi apa yang ada di tempat ia bekerja itu. Ia menjelaskan bahwa ada espresso, cappuccino, latte, piccolo, single origin, dan seterusnya.

Anda memilih manual brew mungkin karena minuman itu sedang jadi tren. Anda lalu bertanya ada biji kopi saja yang tersedia untuk manual brew.

Barista Manis menyebut koleksi kopi single origin yang tersedia; daerah asalnya, nama kebunnya, proses pascapanen-nya, hingga rasa-rasa apa saja yang terkandung di biji kopi itu. Anda mengangguk-angguk seolah paham, lalu meminta biji kopi itu diseduh dengan metode V60 supaya Anda bisa memotret aksi seduhnya yang penuh gaya.

Setelah hampir lima menit seluruh proses seduh yang dilakukan dengan sepenuh hati itu berlalu, Barista Manis menyajikan minuman itu dengan penuh hormat. Ia sangat berharap Anda memberi masukan apakah kopi seduhan yang ia sajikan berhasil mengeluarkan berbagai rasa yang tadi sudah dijanjikan.

Anda tersenyum saja, lalu bertanya, “Boleh minta gula?” Dengan hati yang remuk redam Barista Manis memenuhi tuntutan Anda sebagai seorang pelanggan, dan lantas melihat Anda mengaduk-aduk kopi Arabika kualitas spesial (yang sesungguhnya kandungan gulanya sudah tinggi itu) dengan gula, lalu menyeruputnya setelah sepuluh kali lagi memotretnya.

2) Barista Penuh Semangat
barista-penuh-semangatBegitu Anda melangkah masuk ke dalam kedai kopi itu sambil membawa laptop dan dua telepon genggam, Barista Penuh Semangat akan menyambut dengan ramah dan lantang, “Selamat Pagi!”

Sambil tersenyum lebar Barista Penuh Semangat memperkenalkan Anda pada sajian khusus hari itu.

“Hari ini mau kopi apa, Pak? Kebetulan kami sedang menyajikan kopi Malabar yang diproses secara natural, dan ada rasa manis dengan sedikit sentuhan mangga. Kalau mau yang espresso-based kami sedang pakai blend dari Toraja dan Ethiopia, dan paling pas kalau jadi piccolo. Nah, Bapak mau yang mana?”

Anda pun menanggapi dengan dua permintaan yang sangat berhubungan dengan kopi; “Meja yang ada colokan di mana, dan password wifi-nya apa?”

 

 

 

3) Barista Kalem
barista-kalemTampak tenang dan tidak terlalu bergairah, Barista Kalem senangnya mengulik di balik mesin espresso atau bar seduh tanpa banyak ribut. Senyumnya cukup saja sesuai standar pelayanan, dan niatnya untuk menggurui pelanggan sama sekali nol.

Anda duduk di hadapan Barista Kalem yang namanya tidak pernah Anda dengar, akun Instagram-nya tidak pernah ada, tangannya bersih dari tato, wajahnya bebas jenggot, dan celemeknya dari linen lusuh saja. Kesempatan emas ini tidak Anda sia-siakan untuk memberinya masukan setelah Anda menyicip piccolo buatan Barista Kalem ini.

“Kamu ini harusnya lebih sering main sama Aga. Kenal Aga, ‘kan? Itu, lho, barista yang jago dan sudah main film Filosofi Kopi! Dia orangnya baik. Dia pasti mau bagi ilmu ke kamu supaya kamu tahu bagaimana membuat piccolo yang enak. Ini buat saya – buat saya, lho, ya! – piccolo-nya terlalu asam. Kamu pasti buat espresso-nya kurang tepat. Buat espresso itu harus ditimbang dulu. Lalu, grinder-nya juga kelihatannya tidak standar. Kenapa grinder-nya hanya ada satu? Di kafe-kafe lain biasanya grinder ada tiga, atau malah empat, lho. Jadi hasil gilingannya juga bagus.”

Barista Kalem akan mengangguk-angguk dengan penuh senyum dan menerima masukan Anda sambil berharap bahwa selain “kuliah” mengenai espresso mungkin Anda juga tidak lupa meninggalkan tip yang cukup sebagai kompensasi kesabaran dan ketabahan hatinya mendengarkan Anda.

4) Barista Lincah

barista-lincahBarista Lincah mudah ditemukan di kedai-kedai kopi ukuran kecil hingga menengah. Kedai-kedai kopi ini biasanya dibangun di atas kecintaan akan kopi, dan dengan modal yang pas-pasan sehingga dalam satu hari hanya ada dua orang yang bekerja. Tiga orang kalau akhir pekan. Padahal, pengunjungnya lumayan ramai.

Barista Lincah adalah barista yang menerima pesanan Anda,
lalu membuatkan kopi Anda dan memanaskan croissant Anda,
lalu membawanya ke meja Anda,
lalu datang lagi karena Anda butuh sehelai tissue,
lalu datang lagi karena Anda minta dibawakan air putih (yang biasanya gratis tapi semestinya Anda ambil sendiri),
lalu datang lagi karena Anda mau menyolok telepon genggam Anda namun lokasi colokan terlalu jauh sehingga dibutuhkan kabel tambahan,
lalu datang lagi karena Anda butuh saos tomat,
lalu datang lagi karena Anda minta sambal botolan,
lalu datang lagi karena Anda bingung kenapa Instagram Anda error, lalu datang lagi karena Anda minta difoto dalam berbagai pose sambil minum kopi,
dan akhirnya datang lagi karena Anda minta bill,
dan datang lagi untuk mengurus pembayaran Anda,
dan akhirnya datang lagi untuk membersihkan meja yang Anda tinggalkan dengan bekas-bekas makanan dan minuman tanpa sepeser tip.

Barista Lincah kadang mengalami krisis identitas diri; apakah ia seorang barista atau pelayan?

5) Barista Jahat

barista-jahatIa akan mendelik sinis saat Anda minta gula. Ia akan melayani dengan malas-malasan saat Anda memesan Iced Lychee Tea. Sesama Barista Jahat juga akan bergunjing melihat Anda mendorong cappuccino ke sudut meja untuk difoto dengan sudut gambar tegak lurus dari atas. Mereka akan tertawa-tawa kecil melihat Anda berlagak membaca majalah Kinfolk.

Barista Jahat tidak peduli apabila pelanggan dengan pemahaman kopi yang cetek menjadi kesal dan tidak mau datang lagi ke kafe tempatnya bekerja. Apabila Anda menulis kritik pedas di TripAdvisor maka Barista Jahat akan tetap berpendapat bahwa Anda yang tidak tahu apa-apa soal specialty coffee.

Lantas, kenapa Anda harus berdamai dengan Barista Jahat juga? Bukannya dia yang salah? Ini memang ujian yang paling sulit. Ujian ini harus dihadapi dengan pemahaman bahwa banyak sekali barista yang sangat ahli dan penuh cinta pada kopi namun langsung berkarir sebagai seorang barista tanpa melewati tempaan menjadi seorang pelayan di mana ia bisa belajar banyak mengenai pokok-pokok pelayanan yang baik.

Di satu sisi kita harus bangga akan banyaknya barista baru yang demikian pintar, ahli dan penuh passion. Kedai-kedai kopi bermunculan dan semua berebut mencari barista yang piawai. Namun, sisi pelayanan yang baik tidak boleh dilupakan.

Nah, apabila sebagai pelanggan kita bisa memahami keadaan ini, lalu memberi masukan kepada pemilik atau pengelola tempat dengan niat baik, maka kita sudah mengambil langkah perdamaian. Apabila Barista Jahat bisa menerima masukan kita, maka dunia jadi indah.

Apabila tidak, ya memang dia yang jahat.

(Tulisan oleh Ve Handojo;
ilustrasi oleh Nazi Cavell.)

Ve Handojo

About Ve Handojo

Ve Handojo adalah seorang penulis sekaligus salah satu pendiri ABCD School of Coffee dan Ruang Seduh. Ia juga menjadi juri di berbagai kompetisi kopi. ABCD School of Coffee juga menyelenggarakan kompetisi-kompetisi kopi berskala nasional. Instagram: @vehandojo @abcd_coffee.

One Comment

Leave a Reply