Dimulai dari ide Trish Rothgeb untuk membagi perkembangan industri kopi jadi tiga gelombang, sampailah kita pada third wave. Di era kopi ‘gelombang ketiga’ ini, fokus peminum kopi bergeser. Dari ngobrol-ngobrol a la kedai kopi, menjadi fokus pada cita rasa dari secangkir kopi berkualitas. Kopi mulai memperoleh reputasi sebagai minuman artisan, layaknya wine.

Gelombang Ketiga: Minuman Artisan

  • Transparansi tentang biji kopi
  • Konsumen yang ingin tahu
  • Sustainability
  • Kedai kopi & roaster independen

Apa yang memulainya?
Tekad untuk mencari rasa kopi enak, terlepas dari pemasaran maupun keramahtamahan kafe.

Gelombang ketiga diprediksi mulai terpicu sejak akhir tahun 1990-an. Seperti gelombang pertama yang memicu pergolakan gelombang kedua, pola yang sama pun memicu munculnya gelombang ketiga. Saat gerai-gerai kopi terjebak menyempurnakan green tea latte dan macchiato dengan takaran susu dan krim berlebihan, munculah generasi baru yang benar-benar ingin menyempurnakan teknik pembuatan kopi.

Chemex, alat seduh yang kembali populer di era gelombang ketiga ini sesungguhnya sudah ada sejak tahun 1941 dan rajin menghiasi set-set film tahun 50-an.

Barista, yang sejak gelombang kedua mulai dianggap sebagai pencipta karya seni dalam secangkir kopi, kini semakin terobsesi untuk menemukan biji kopi terbaik di dunia. Menyempurnakan teknik panggang yang mampu mengeluarkan karakter otentik biji kopi, hingga teknik seduh yang presisi untuk membuat kopi terbaik menjadi tujuan utama.

Di gelombang inilah, istilah seperti single origin dan micro-lot sering disebut-sebut. Jika di gelombang kedua barista dan roaster diperkenalkan sebagai artisan, gelombang ketiga mulai mengangkat para petani kopi. Para roaster gelombang ketiga mulai fokus menggunakan biji kopi yang berasal dari perkebunan kopi kecil di satu area, perkebunan kopi individu, sampai perkebunan individu di area spesifik yang disebut micro-lot.

Jika pada gelombang kedua roaster akan menulis asal kopi dari Sulawesi, roaster gelombang ketiga akan menulis nama daerah di Sulawesi. Ditambah perkenalan singkat tentang petaninya, kisah hidupnya, sampai nama anak-anaknya. Intinya, karakter dan keunikan satu area perkebunan akan diangkat bersamaan dengan sosok yang berjasa dibalik produksi kopi.

Orang-orang yang bekerja dalam industri kopi pun mulai mengusulkan perdagangan langsung dengan petani tanpa perantara atau penadah. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani kopi, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas kopi di suatu wilayah.

Dalam gelombang ketiga, barista dituntut untuk mengetahui asal usul biji kopi, karakter panggang, teknik penyeduhan, hingga karakter rasa dan aroma yang dapat dikeluarkan oleh biji kopi. Tujuannya, tak lain tak bukan, adalah mengedukasi para penikmat kopi dan menempatkan secangkir kopi itu sendiri sebagai pusat perhatian.

Gelombang Keempat?

Hingga kemudian, gelombang keempat pun mulai disebut-sebut belakangan ini.

Namun, Coffeemates, hingga kini orang-orang masih mencari-cari apa yang dimaksud dengan gelombang keempat. Beberapa yakin bahwa gelombang keempat ditandai dengan kemewahan merasakan biji kopi berkualitas dari berbagai belahan dunia dengan bantuan e-commerce. Lainnya percaya, tanda-tanda datangnya gelombang keempat adalah kedai kopi dan roastery independen yang bermunculan di setiap belokan jalan.

Di gelombang manapun kita sekarang, ini adalah era yang sangat menyenangkan bagi kita para penikmat kopi. Era di mana informasi dapat diakses dari berbagai sisi. Tidak ada hari tanpa kemunculan orang-orang yang baru saja jatuh cinta pada kopi.

Apapun kopi yang kita nikmati, mereka adalah hasil inovasi dari para peminum kopi sebelum-sebelumnya. Atau, dalam kata-kata Bradford Lowry: “Tanpa inovasi-inovasi dari gelombang pertama, kita tidak akan menikmati kopi seperti sekarang ini.”

Apapun gelombang yang kita anut, ini bukan lagi soal cara minum kopi yang paling betul ataupun salah. Satu-satunya yang tersisa, hanyalah cita rasa secangkir kopi yang kita suka.

(Disadur dari craftbeveragejobs.com, dripsanddraughts.com,
sprudge.com, the guardian.com,
& buku ‘Coffee Nerd: How to Have Your Coffee and Drink It Too’
oleh Ruth Brown.

Tulisan oleh Lani Eleonora & Klara Virencia;
suntingan oleh Klara Virencia.

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply