Sebagai barista yang lama merasakan dunia kopi Melbourne, Hadi Suwardi sang pemilik kedai Three Siblings punya banyak cerita dari balik meja.

DSC_0435

Ia mengakui, sesederhana ucapan terima kasih bisa membuatnya merasa dihargai sebagai barista.

“Atau simpel, (mereka) bawain cangkir kosong ke saya,” kisah Hadi, mengenang pengalamannya dengan salah satu pelanggan. “Itu cukup banget. Berarti mereka lebih bisa hargain secangkir kopi itu gimana.”

Untuk kedai kopi dengan interior apik seperti Three Siblings, kedatangan foodblogger yang silih berganti sudah jadi pemandangan biasa.

DSC_0460

Meski senang kedainya menarik perhatian, perasaan Hadi sebagai barista bercampur aduk. “Susah juga sih dibilang. Di satu sisi itu kayak—ya itu kayak penghargaan karena dia bisa moto2  gitu kan,” Hadi memulai. “Di satu sisi, kita juga pengin kopi kita diminum. Terus dikasih feedback-nya gimana.”

Tidak jarang ia menemukan pelanggan yang menyeruput pesanan sekadarnya saja. Belum habis gelas pertama, mereka memesan minuman kedua. Untuk difoto saja. Tidak dihabiskan juga.

“Jadi kayak, campur aduklah perasaannya. Bisa dibilang begitu.”

Melbourne vs Jakarta

“Banyak peminum kopi biasa yang tahu gitu mana kopi yang enak mana kopi yang nggak. Jadi mereka lebih tahu. Soalnya di sana (kopi) tuh budaya, rutinitas, keharusan,” jelas Hadi, menceritakan pengalamannya di Melbourne.

Hadi mengakui, Indonesia punya budaya kopi yang kencang. “Cuma bedanya itu apakah kopinya itu berkualitas apa nggak.” Ia mengamati, kebanyakan kopi di Indonesia atau negara penghasil kopi lainnya yang untuk dikonsumsi sendiri malah kualitas kelas dua.

“Karena begitu, satu mindset itu timbul: kopi itu pahit, nggak enak.” Kedatangan budaya minum kopi gelombang ketiga (3rd wave) yang mengusung specialty coffee di Indonesia, baginya, sungguh membukakan mata.

“Dengan munculnya 3rd wave, specialty coffee itu, masyarakat sini jadi bisa tahu. Jadi kopi itu bukan sekadar kopi. Kopi itu ternyata banyak rasanya,” ujar Hadi.

Ia merasakan perlahan, peminum kopi di Indonesia mulai bisa mengapresiasi rasa dari kopi itu sendiri. Hadi juga mengagumi budaya barista antar kedai kopi di Melbourne yang saling bahu membahu.

“Di Melbourne, masing2 brand dan toko itu, mereka—they work for the industry. Mereka tidak menganggap toko yang satu dengan yang lain saingan. Mereka lebih ke sharing,” papar Hadi. “Misalnya ada satu toko yang misalnya kesusahan, toko yang lain kadang bisa membantu. Mereka promosi satu sama lain.”

Tumbuh Bersama Kopi

Sejak usia 8 tahun, Hadi tumbuh besar menyicipi kopi. Namun ia baru serius memegang mesin kopi selepas kuliah.

DSC_0456

“Sebenarnya tidak terpikir sama saya sih pengin masuk ke dunia kopinya itu. Hanya sekadar nyari tambahan uang jajan, kerja di coffee shop,” kenang Hadi.

Mulai dari mencatat, mengantar pesanan, hingga cuci piring ia jalani. Setelah beberapa bulan, ia diberi kepercayaan untuk membuat kopi di mesin. Sejak saat itu, Hadi berkutat dengan eksperimen yang tak henti-henti dan rasa penasaran yang tak kunjung habis. Ia sempat dua tahun mencoba ‘normal‘, bekerja di perkantoran menangani keuangan. Namun masalah hati tak bisa dibohongi.

“Tidak begitu enjoy sih dengan suasana dunia corporate,” curhat Hadi. Ia memutuskan untuk kembali lagi ke dunia kopi, dan membangun Three Siblings demi mengenalkan kopi specialty. Ketika masuk Three Siblings, kamu akan disambut dua bar terpisah.

DSC_0419

Bagi kamu yang butuh secangkir espresso untuk bikin melek mata, langsung saja meluncur ke bar di ujung ruangan.

Minuman berbasis susu seperti cappuccino, melbourne, dan flight juga bisa kamu dapatkan di sini.

DSC_0461

Bar kopi espresso & milk-based drinks.

Untuk kamu yang lebih gemar ngopi santai dengan secangkir kopi yang diseduh manual, mari melipir ke sisi bar sebelah kanan. Di sini, kamu bisa menyaksikan langsung proses penyeduhan manual dengan berbagai alat. Sebut saja: chemex, v60, bahkan aeropress. Alat-alat ini terpampang rapih di balik kotak kaca, yang bisa kamu amati sembari menunggu kopimu jadi.

DSC_0429

Bar kopi manual.

Hadi Suwardi merancang bar ini dengan seksama. Sentuhan interior a la Jepang dipilih karena kesenangannya dengan anime. Selain dari ‘Melbourne‘, minuman khas yang ia adaptasi dari flat white khas Australia, Hadi juga membanggakan seduhan manual brew-nya.

“Saya pribadi saya lebih demen proses pembuatannya. Saya enjoy banget prosesnya, lebih banyak yang bisa saya lakuin.”

Ketika kami berkunjung, kami berkesempatan mencoba secangkir kopi Ethiopia manual brew. Tersaji manis di atas nampan kayu, dengan gelas kaca yang mengerucut di bagian atasnya. Aroma mewah pun menguar memanjakan indra.

DSC_0427


Three Siblings Coffee Brewers

Jl. Margaguna Raya, Blok C1,
Ruko Plaza 5, Pondok Indah

Jakarta Selatan

Hari buka: Senin, Rabu – Minggu
Jam buka: Pukul 09.00 – 18.00

Related Post

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply