Meski matahari masih tinggi di atas, area kandang yang berisikan 40 ekor luwak itu minim penerangan. Luwak sejatinya binatang malam. Saat kunjungan kopikini.com ke penangkaran milik David Jonazh di wilayah Sentul, Jawa Barat, luwak-luwak itu tersembunyi dari pandangan. Satu atau dua, ada mata menyalang yang mengintip dari balik kandang. Masing-masing luwak mendapat ruangnya sendiri. Ada sekat kawat di antara kandang-kandang. Wajib hukumnya, tegas David. Sejatinya, luwak adalah kanibal yang tak segan memakan sesama.

“Jadi ada orang yang coba-coba bikin kandang besar. Ada temen saya di Bandung, di Lembang,” kisah David Jonazh, saat kami berbincang di tengah kebun kopi miliknya. “Dia taruh 20 ekor luwak di satu kandang. Itu hanya dalam waktu semalam, besoknya tinggal dua ekor. Yang hidup, luka-luka.”

Di tengah keganasan ini, luwak-luwak di peternakan David sempat beranak pinak. Rupanya, insting kanibal luwak tidak berlaku untuk lawan jenis. Pernah suatu masa, empat ekor bayi luwak lahir di peternakannya.

DSC_0421

David Jonazh, penangkar luwak, penikmat kopi, sekaligus penggagas ‘R&J Authentic Civet Coffee’.

“Tapi ya susah tuh. Kita nggak bisa meliharanya,” ujar David Jonazh. “Kita coba kasih susu, kasih apa, nggak bisa. Akhirnya kita nggak ternak.”

Alih-alih penangkar, David sejatinya seorang pencagar luwak. Luwak-luwak miliknya ia ‘selamatkan’ dari para pemilik kebun yang terganggu oleh luwak. Bagi pemilik kebun, luwak adalah hama.

“Luwak ‘kan dibunuh-bunuhin. Taruh ke tempat saya sini, ada berapa banyak. Saya bayar,” ujar David Jonazh. Masing-masing luwak ia hargai Rp 150ribu per ekor.

Luwak-luwak yang ia beli tersebut tidak ia tangkarkan permanen. Selepas 6 bulan, luwak-luwak tersebut ia lepaskan dan ganti dengan ‘angkatan’ luwak yang baru.

DSC_0003

DSC_0001

Luwak, pada dasarnya makhluk nokturnal.

Luwak Butuh Perhatian
David memahami, luwak punya aturan main sendiri. Soal makanan, kopi bukanlah yang utama bagi Luwak.

“Kopi itu bagi Luwak itu camilan. Bukan makanan utama. Makanan utama dia tetap daging, sama buah. Dia kan binatang omnivora, makan daging dan makan buah,” jelas David. Untuk luwak tangkarannya, ayam dan pisang selalu jadi menu wajib. Tak bisa asal pilih daging atau buah, karena luwak ‘mahal’ lidahnya.

“Karena dia memang terbiasa di liar, dia selalu pilih apa-apa yang terbaik,” papar David. “Jadi kalau daging ayam nggak segar, nggak dimakan. Pisang yang jelek juga dia nggak makan.”

Kebiasaan itu pun menurun saat memilih buah kopi untuk dimakan. Buah kopi yang merah belum tentu berarti buah kopi yang baik. Namun insting alami luwak menggiringnya untuk memilih biji-biji kopi dengan sari lendir yang manis. Sari lendir yang sama dengan biji kopi proses honey-washed inilah yang dihisap oleh luwak. Bijinya yang tertinggal di perut dan dikeluarkan melalui feses, tentu biji hasil buah-buah kopi terbaik.

DSC_0010

Secara insting kerap mencari tempat gelap.

Selain memastikan area kandang penangkaran luwaknya tetap gelap, David juga memberi perlakuan ekstra untuk luwak-luwaknya. Agar kesehatannya terjaga, setiap luwak mendapat asupan sari buah fermentasi yang David racik sendiri. Asupan kopi untuk para luwaknya juga diselang setiap dua hari sekali.

Makan Biaya, Harga Mati
Dengan menu makanan yang ‘mewah‘, fasilitas kandang dan nutrisi yang layak, bertangkar luwak sewajarnya menghabiskan biaya tinggi. Mengomentari adanya kandang-kandang luwak yang tidak layak di luar sana, David Jonazh berkomentar singkat.

“Kalau orang yang kurang modal, pengin hasil yang besar, ya akhirnya gitu,” ujarnya. Ia mengakui, perawatan luwak memang memakan biaya. Namun, perawatan yang layak merupakan harga mati baginya. “Kita mau mendapatkan hasil baik,  maka mau nggak mau kita harus pelihara dia dengan baik.”

Dari ‘camilan’ sebanyak 100kg buah kopi yang David panen di kebun kopi miliknya, 40 ekor luwak tangkarannya menghasilkan kurang lebih 2kg biji kopi luwak per hari. Dengan penyusutan volume produksi yang besar, proses yang panjang, serta perawatan yang mumpuni, biji kopi luwak asal penangkaran David dibanderol seharga Rp 2juta per kilogram.

DSC_0484

David turut memanggang sendiri biji kopi luwak miliknya, hingga siap giling.

Saat ini, sebagian besar biji kopi luwak milik David berakhir di luar negeri.

“Di sini udah banyak merk luwak,” ujar David. Selain itu ia melihat, kisruh penangkaran luwak yang tidak layak lantas membuat konsumen dalam negeri terlanjur sinis. “Ada orang yang karena ingin untung besar, dan itu yang jadi perusak.”

Kopi luwak asal penangkaran David diberi nama ‘R&J Authentic Civet Coffee’. Dalam porsi segelas-dua gelas ataupun seduhan rumahan, ‘R&J Authentic Civet Coffee’ tersedia melalui kedai kopi Calidoca di bilangan Mall of Indonesia, Jakarta Utara.

Bukan Pengusaha Kopi

Selain penangkaran luwak, David Jonazh juga memiliki kebun kopi di lereng bukit, yang berjarak sekitar 2 jam perjalanan menggunakan mobil dari tempat penangkaran luwak.

Meski begitu, David Jonazh menolak disebut pengusaha kopi.

“Jangan bilang saya pengusaha kopi, bukan. Saya penikmat kopi dan saya suka, senang,” ujar David. “Kedua, saya bantu orang. Jadi motivasinya itu memang.”

DSC_0452

David Jonazh, mencium aroma biji kopi di tengah sesi roasting.

Sejak awal, ia tidak pernah berniat usaha kopi. Ide menanam pohon kopi di lereng-lereng bukit Sentul muncul ketika ia sedang mengitari bukit di sekitar rumahnya. Ia melihat begitu banyak lahan kosong yang bisa dimanfaatkan. Ironisnya, penduduk sekitar lahan malah terlantar secara ekonomi.

“Mereka tuh nggak punya kerjaan, nggak punya penghasilan, nggak punya tanah, nggak punya modal, nggak punya apa-apa.”

Untuk memberdayakan masyarakat sekitar, David lalu menanami tanah-tanah kosong tersebut dengan pohon kopi. Hingga kini, 29 orang penduduk sekitar bekerja di kebun kopi dan penangkaran luwak milik David.

Di lereng yang berkisar di ketinggian 600 – 1000m di atas permukaan laut ini, David Jonazh menanam tanaman kopi robusta, arabika, dan liberika. Lereng ini memang merupakan habitat alami luwak. Sesekali, ditemukan kotoran luwak liar di tengah kebun.

DSC_0195

Biji kopi luwak ‘segar’ yang belum dibersihkan.

David Jonazh mempersilakan para calon penikmat kopi luwak untuk datang bertandang mengintip penangkaran luwak miliknya. Bagi David, pembeli yang bijak justru memahami seluk beluk produknya sampai ke hulu.

“Jadi kalau orang memilih kopi luwak itu, dia lihat tempatnya,” ujar David. “Itu, orang yang niat betul.”

(Liputan oleh Andreansyah Dimas, Clarissa Eunike, & Klara Virencia;
tulisan & suntingan oleh Klara Virencia;

foto oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply