DSC_0412

Tersempil di sebuah pojok Jalan Cipete Raya, Toko Kopi Tuku setia meladeni kebutuhan kopi para tetangga. Mungil, bersahaja, dan siap melayani lewat jendela.

DSC_0371 (2)_resized

DSC_0381

Secangkir Kopi Tetangga

Tempatnya tak lebih besar dari sebuah kamar tidur. Tatkala masuk, pelanggan akan disambut suasana hangat dari balik bar kopi. Di Tuku Kopi, bar kopi langsung berhadapan dengan kursi panjang tempat pelanggan duduk. Selain menampung barista yang lalu lalang, sisi bar Toko Kopi Tuku juga menyimpan tumpukan biji kopi dalam karung.

DSC_0317

DSC_0396

Di balik bar, dekat pintu masuk, terdapat jendela yang bisa dibuka tutup. Dari sinilah barista mengoper kopi pesanan on-the-go. Lampu kuning temaram dan sekuntum anggrek dalam pot memberi kesan manis pada kedai mungil itu.

“Dari tempat yang minimal ini, kita jadi interaksi sosialnya kuat banget,” ungkap Andanu Prasetyo, sang pemilik, yang akrab dipanggil Tyo. Ia secara khusus tertarik dengan pola nongkrong kedai kopi di daerah-daerah luar ibukota—Takengon dan Pontianak, misalnya. Namun di ibukota sendiri, ia melihat suasana ini belum terbangun.

Tuku_TIO

Andanu Prasetyo, akrab dipanggil Tyo, antusias menularkan cinta akan kopi.

“Kok rasanya masih sekadar tempat, gitu. Beberapa tempat sudah (terbangun), tapi nggak semua tempat.”

Misi inilah yang melahirkan Toko Kopi Tuku di bilangan Cipete Raya. Untuk Tyo, kedai kopi layaknya menjadi andalan komunitas lokal di area itu saja. Tidak perlu mengarungi ibukota dari Utara hingga ke Selatan untuk secangkir kopi nikmat. Toko Kopi Tuku hadir bersahaja.

“Cuma sekadar, gimana gue ngeserve orang Cipete dan sekitarnya, dengan kopi yang cocok buat mereka.”

Sesuai namanya, Toko Kopi Tuku juga menyediakan bubuk kopi pilihan dalam porsi mini untuk dibawa pulang. Jikalau biasanya bubuk kopi dijual dalam ukuran 250gr, Toko Kopi Tuku hadir dengan porsi 100 gr. Untuk kopi tetangga, bubuk kopi ukuran 100gr dipatok Rp 25.000,-.

Di kedai ini, niscaya pelanggan bisa mendapatkan secangkir kopi sesuai selera mereka. Tyo dan para baristanya rela menyesuaikan racikan mereka dengan selera pelanggan mereka, para ‘tetangga’. Untuk mengulik selera mereka, Tyo memulai dari pertanyaan sederhana.

DSC_0323

DSC_0326

“Nanya, ‘biasa minum kopi di mana?’ Terus, ‘Senengnya yang kayak gimana?‘,” ujar Tyo. “Biasanya nanya kopi di mana, gue udah kebayang sih.”

Dari situ, ia berangkat meracik kopi untuk mereka. Lidah penikmat kopi warga sekitar Cipete, Tyo mengamati, masih lebih akrab dengan kopi Robusta. Demi mengenalkan mereka pada kopi Arabika, Tyo mengandalkan jajaran baristanya untuk bisa berkomunikasi dan menjembatani selera warga dengan kopi racikan Toko Kopi Tuku.

Secangkir Kopi Tetangga panas ukuran kecil bisa didapat seharga 9 ribu saja. Sangat terjangkau untuk rutinitas mengopi setiap pagi. Namun Tyo belum puas dengan harga  seminimalis ini. Sebagai seorang pemilik kedai kopi, Tyo malah berharap semakin banyak kedai kopi mini seperti miliknya menjamur di ibukota.

“Semakin banyak yang kecil ini buka, kompetisinya semakin kompetitif, kan,” papar Tyo. “Nanti harganya jadi kompetitif juga, akan jadi turun lagi.”

DSC_0417

Toko Kopi TUKU
Jl. Cipete Raya No. 7

Jakarta Selatan, 12410

Hari buka: Setiap hari
Jam buka: Pukul 07.00 – 22.00

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply