Berawal dari perbincangan saya dengan seorang asal Vietnam saat berkeliling di acara Urban Life: Fashion, Coffee, and Sneakers pada bulan Oktober lalu akhirnya saya menanamkan niat untuk berkunjung ke negara ini. Beliau yang tidak sempat saya ketahui namanya mengatakan saya harus berkunjung ke Vietnam dan menantang saya mencoba kopi di sana. “Kamu harus coba. Kalau kuat.”, katanya.

Pasalnya, kopi tradisional Vietnam yang biasa disajikan dengan Phin (saringan kopi Vietnam atau biasa disebut Vietnam Drip-red) berasal dari biji kopi robusta dengan hasil seduhan kopi sangat pekat. Tak heran jika selalu disajikan di gelas kecil dengan susu kental manis agar kopi dapat dinikmati. Jika tidak, pahitnya sungguh seperti kenyataan hidup.

Kopi drip Vietnam.

Sadar sedang mengunjungi negara produsen kopi terbesar kedua di dunia saya memiliki ekspektasi besar terhadap budaya kopi di Vietnam. Menyusuri jalan di kota Hanoi hingga Ho Chi Minh kamu akan menyadari budaya ngopi di negara ini sungguh kental terasa. Tak beda jauh dengan Indonesia, sebenarnya.

Bedanya, barisan kafe yang menyajikan ca phe sua da (Vietnamese: cà phê sữa đá; es kopi susu tradisional Vietnam) dapat ditemukan hampir di tiap sudut jalan. Kira-kira seperti tenda makan pecel lele di Indonesia. Pengunjung pun mulai sangat ramai lepas senja. Tersedia bangku plastik kecil warna warni di trotoar bagi para pengunjung untuk menikmati kopi yang biasa disajikan dengan sepiring kuaci. Tak jarang kursi-kursi plastik berjajar keluar dari trotoar hingga ke jalan raya.

Setiap malam kamu akan dengan mudah menemukan pemandangan ini di tiap sudut jalan kota-kota Vietnam (Sumber gambar: vietnaminmyheartblog.wordpress.com)

Berburu Kopi Specialty di Vietnam

Vietnam memiliki jaringan kedai kopi besar bernama Highlands Coffee yang dapat kamu temukan dengan mudah di tiap kota tanpa harus bersusah payah. Namun, rupanya dibutuhkan kesabaran dan kegigihan lebih jika kamu mencari kedai kopi specialty.

(Sumber gambar: www.asmag.com)

Tanpa harus mencari di aplikasi perjalanan atau menyusuri mesin pencari internet saya kesulitan untuk menemukannya. Hingga akhirnya saya terpaksa menyerah dan meminta bantuan petunjuk di internet baru berhasil menemukan Bosgaurus di kota Ho Chi Minh dan Phin Coffee di kota Hoi An.

Termasuk salah satu kedai pelopor kopi specialty, Bosgaurus juga rumah bagi juara Vietnam Barista Championship tahun 2016 dan 2017, Tran Que Han. Kedua kedai ini ingin memperkenalkan masyarakat Vietnam kepada kopi yang kaya citarasa dan tak selalu pahit. Di sana kamu dapat menikmati seduhan manual biji kopi yellow bourbon dari perkebunan dataran tinggi kota Da-Lat.

Meski tak sempat bertemu dengan sang juara nasional, saya cukup beruntung menemukan kedua tempat ini dan dapat berbincang singkat dengan barista yang bertugas. Begitu saya menjawab, “Indonesia”, usai ditanya berasal dari mana, para barista langsung sumringah dan memuji kopi-kopi asal Indonesia. Saya pun tak kalah sumringah negara saya dipuji begitu sembari disuguhi kopi yang sudah manis tanpa kehadiran susu kental manis di dalam cangkir.

Meski demikian Coffeemates, tak ada salahnya mencicipi kopi tradisional Vietnam di pinggir jalan kota untuk merasakan bagaimana kopi menjadi salah satu komoditas pelebur suasana di tengah masyarakat Vietnam.

Peran Penting Kopi dalam Perekonomian Vietnam

Perlahan menetes ke dalam cangkir namun kopi Vietnam begitu cepat melesat dalam segi produksi. Usai tujuh belas tahun bertempur dalam perang melawan Amerika, Vietnam harus bangkit guna meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan rakyatnya. Produksi kopi Vietnam kemudian perlahan naik usai perang berakhir pada tahun 1975, terlebih setelah Jerman Timur menandatangani perjanjian pembelian kopi dengan pemerintah Vietnam.

Pada tahun 1976 terjadi gagal panen besar di Brazil yang mengakibatkan harga kopi dunia meroket tajam. Hal ini memicu Jerman Timur untuk menandatangani perjanjian dengan Vietnam dan membantu penanaman kopi di negara ini.

Dalam laporan penelitian dari Research and Market dinyatakan bahwa lahan produksi kopi di Vietnam kini meningkat 30 kali lebih besar dari tahun 1961. Peningkatannya mulai pesat di tahun 1990-an, sekitar 20%-30% per tahun. Dalam laporan itu juga disebutkan bahwa ekspor biji kopi Vietnam pada tahun 1991-1995 hanya 142.000 ton dengan nilai USD 210 juta. Namun, pada tahun 2016 hasil ekspor meningkat hingga 1 juta ton dengan nilai ekspor sebesar USD 3 milyar.

Hal ini berdampak sangat baik bagi perekonomian Vietnam. Kopi yang memenuhi 20% dari seluruh total ekspor produk agrikultur Vietnam kini memberikan lapangan pekerjaan kepada jutaan petani kopi dan tiap individu yang bekerja di industri ini. Menurut BBC News, pada tahun 1994 sekitar 60% masyarakat Vietnam hidup di bawah garis kemiskinan, dengan meningkatnya industri kopi dalam negeri kini jumlahnya kurang dari 10%.

(Sumber gambar dari: nolasia.net)

Berhasil mengadakan kejuaraan nasional barista pertama kali pada tahun 2016, Vietnam tampak mulai menapaki jalur industri kopi specialty. Q-Grader, pelaku ekspor, dan pemilik kedai kopi yang peduli dengan peningkatan kualitas kopi pun mulai bermunculan.

Contohnya, Nguyen Ninh dari La Viet Coffee, sebuah perusahaan ekspor kopi berskala kecil. La Viet Coffee mendukung perdagangan langsung dari petani kopi tanpa perantara, memilih biji kopi manual dengan tangan, mencicipi langsung, dan mengekspor hasil panen dalam skala kecil ke seluruh dunia. La Viet pun menjadi salah satu pelopor perdagangan langsung yang dapat meningkatkan pendapatan para petani kopi. Hal ini pun perlahan dapat berdampak pada meningkatnya kualitas kopi Vietnam.

Bisa jadi Coffeemates, sebentar lagi kamu dapat menemukan kedai kopi specialty di tiap sudut Vietnam. Saya tidak akan terkejut jika nantinya biji kopi dari Da-Lat pun dapat bersanding dengan biji-biji kopi dari Gayo atau Panama di kedai kopi kesayangan.

(Sumber data tulisan dari huffingtonpost.com, bbc.com, dan researchandmarkets.com

Liputan, tulisan, dan suntingan oleh Lani Eleonora

Suntingan foto oleh Andreansyah Dimas)

Related Post

Lani Eleonora

About Lani Eleonora

Lani Eleonora adalah seorang penikmat kopi yang senang berkelana, menapaki gunung, dan menyelami lautan. Musik adalah cinta pertamanya yang menuntun ia untuk menulis.

Leave a Reply