Di antara rangkaian lomba dalam Indonesia Coffee Events (ICE) Western Championships, 9-12 Februari 2017 lalu, cabang lomba seduh manual nasional jadi cabang yang menjaring peserta paling banyak tahun ini. Dengan total peserta 47 orang, Indonesia Brewers Cup (IBrC) 2017 Western Championships menghadirkan peserta dengan aneka jam terbang. Mulai dari deretan barista jagoan, hingga para pendatang baru. Selain menarik minat penyeduh profesional dari berbagai jenjang, IBrC tahun ini juga tampak menjanjikan dengan kehadiran kompetitor yang sehari-harinya bukan barista. Beberapa peserta hadir secara independen sebagai home brewers, alias penyeduh rumahan.

Tercatat ada 6 peserta independen di cabang kompetisi seduh manual ini. Turut mewarnai panggung Indonesia Brewers Cup pekan lalu adalah kehadiran 4 kompetitor perempuan di antara 43 kompetitor laki-laki.

Salah satunya, Carissa dari Tanamera.

Hanya dalam waktu 4 bulan ia berkarir sebagai barista, Carissa sudah mencicip tiga panggung lomba seduh manual. Mulai dari skala penyeduh wanita, skala lokal, hingga akhirnya skala nasional di IBrC 2017. Di antara para penyeduh manual wanita pada ajang kompetisi MIKARIKA, Carissa keluar sebagai juara pertama. Pada ajang kompetisi Bandung Brewers Cup (BBrC) 2016, Desember lalu, Carissa berhasil lolos ke babak semifinal 12 besar dari total 64 peserta.

Dengan pengalaman tidak sebanyak kompetitor lainnya di dunia seduh manual, Carissa maju ke panggung IBrC tanpa mentor yang menggawangi proses latihannya. Sampai maju ke panggung kompetisi, ia berlatih semua sendiri.

“Paling nanya-nanya ke orang-orang doang sih,” aku Carissa. “Gak dimentorin banget tapi kayak kasih masukan. Terus coba-coba sendiri.”

Dengan gestur yang manis dan kerap menggigit bibir menahan gugup, Carissa mengaku hanya punya sedikit waktu untuk menyiapkan keseluruhan performanya hari itu.

“Sebenarnya kalo bikin ininya (presentasi—red) kayak seminggu sebelumnya gitu,” ujar Carissa sambil tertawa. Pasalnya, ia baru berhasil mendapatkan biji kopi incarannya 3 hari sebelum pertandingan.

“Jadinya kayak mau bikin presentasi juga bingung mau ngomongin apa kan gak ada beans-nya gitu,” lanjut Carissa. ”Jadi ya udah, baru bikin deket-deket.”

Membawa kopi Toraja Sapan untuk dipresentasikan dihadapan keempat juri, ia menyelesaikan penampilannya dalam waktu 7 menit 44 detik. Di panggung seduh manual nasional perdananya ini, penampilan Carissa di babak compulsory dan babak open service membawanya  sejauh babak penyisihan.

Jam terbang memang tak pernah berdusta. Turut berkompetisi di penyisihan regional Barat, Ryan Wibawa dari Starbucks pun tampil dengan persiapan kompetisi yang sudah diramu tiga bulan sebelum bertanding. Tahun lalu, ia meraih gelar juara nasional.

“Persiapannya sekitar dua sampe tiga bulan sih. Cuman maksudnya kita planning itu udah cukup lama juga. Memang udah berencana pengin ikut aja tahun ini,” ujar Ryan, ketika ditemui usai turun dari panggung kompetisi, Jumat (10/2).

Mengangkat biji kopi dari perkebunan Café Granja La Esperanza dengan varietas Sudan Rume, Ryan menjanjikan dalam presentasinya bahwa kopi yang ia bawa ini akan menjadi “the next Geisha in the future”.

Ryan membuka penampilan dengan menceritakan latar belakang biji kopi tersebut. Kemudian, ia memberi efek kejut bagi para penonton dengan membuka kotak besar yang ia bawa ke meja presentasi. Rupanya ini maket sebuah perkebunan kopi di Sudan.

“Jadi ya udah, kepikiran untuk bawa satu miniatur,” ujar Ryan. “Maket mengenai kondisi farm dan bagaimana mereka memproses si coffee-nya.”

Berhasil membuat penonton bergumam ‘whoaa’, Ryan mengaku ingin memberikan gambaran visual dari presentasinya. Sambil bertutur, Ryan bertekad menyajikan sesuatu yang berbeda bagi pandangan mata juri.

“Mereka pun memiliki gambaran yang lebih spesifik, lebih clear akan apa yang aku bawain,” jelas Ryan. “Ya, seakan-akan aku bawa dia ke Colombia.”

Meski sudah kali kedua menginjak panggung kompetisi nasional, Ryan mengaku masih demam panggung. Terlihat pula dari getar tangannya ketika menuangkan kopi seduhannya ke dalam gelas para juri.

Mendarat di peringkat ke-8 pada babak penyisihan regional Barat dan peringkat ke-11 nasional, Ryan akan melaju babak 24 besar nasional pada April nanti. Kembali mengincar gelar juara nasional demi mewakili Indonesia di World Brewers Cup, Ryan ingin menampilkan kopi Indonesia di ajang dunia.

“…memang harapannya adalah aku bisa bawain kopi Indonesia nanti di world,”—ujar Ryan. “Sangat sangat ingin banget bawa kopi Indonesia ke level dunia.”

Tahun ini, cabang Indonesia Brewers Cup (IBrC) secara keseluruhan berhasil menghimpun 59 peserta dari berbagai kota di Indonesia. Dari 24 finalis yang akan bertanding di ajang kompetisi nasional April 2017 nanti, 5 peserta berasal dari penyisihan regional Timur.

Meski sama seperti cabang lain yang finalisnya sebagian besar berasal dari wilayah Barat, cabang IBrC merupakan satu-satunya cabang lomba di mana kompetitor dari Timur unggul dengan peringkat skor tertinggi se-Indonesia. Peringkat 6 besar cabang IBrC nasional antara lain sebagai berikut:

  1. MICHAIL SENO ARDABUANA dari Eleven Elephants (Juara I IBrC Eastern Championships)
  2. RENDY ANUGRAH MAHESA dari Coffeesmith (Juara I IBrC 2017 Western Championships)
  3. ANDI FACHRI, maju independen(Juara II IBrC 2017 Eastern Championships)
  4. SHAYLA PHILIPA dari Hungry Bird Roastery (Juara III IBrC 2017 Eastern Championships)
  5. ANANDITYA RINALDI dari Caswells Coffee (Juara II IBrC 2017 Western Championships)
  6. RICHARD LAWARDI dari Djule Kofi (Juara III IBrC 2017 Western Championships)

Peringkat I nasional babak penyisihan IBrC 2017, Michail Seno Ardabuana.

Peringkat II nasional babak penyisihan IBrC 2017, Rendy Anugrah Mahesa.

Peringkat III nasional babak penyisihan IBrC 2017, Andi Fachri.

Peringkat IV nasional babak penyisihan IBrC 2017, Shayla Philipa.

Peringkat V nasional babak penyisihan IBrC 2017, Ananditya Rinaldi.

Peringkat VI nasional babak penyisihan IBrC 2017, Richard Lawardi.

Termasuk Andi Fachri, tahun ini ada 3 peserta independen yang lolos ke babak 24 besar nasional IBrC 2017. Dua peserta lainnya adalah Albert Gustavo di peringkat ke-8 nasional dan Joko Luhur di peringkat ke-15.

Sementara itu, masing-masing region Timur dan Barat punya 1 perwakilan penyeduh manual perempuan yang berhasil lolos ke final nasional. Shayla Philipa dari Hungry Bird Roastery mewakili wilayah Timur, sementara Vionna Austine Shadily dari Ombe Kofie menjadi jadi perwakilan wilayah Barat.

Sebagai cabang dengan peserta lomba terbanyak, cabang Indonesia Brewers Cup 2017 menjanjikan persaingan nan sengit dan standar nan tinggi dari para finalis. Niscaya, variasi teknis seduh manual yang dibawa para barista juga akan semakin berwarna.

Sudahkah kamu pilih jagoanmu, Coffeemates?

Mari, kita saksikan penampilan mereka pada final Indonesia Coffee Events (ICE) 2017 pada 5-8 April 2017 nanti di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

(Tulisan oleh Lani Eleonora & Klara Virencia;
suntingan oleh Klara Virencia.

Foto-foto oleh Andreansyah Dimas;
suntingan oleh Andreansyah Dimas.)

Kopikini

About Kopikini

Mari bicara kopi.

Leave a Reply